Minggu, 05 April 2026

Ketika Kritik Media Kehilangan Cermin

 Oleh: Riswan Hulalata



Tulisan opini yang dibuat Donal Paputungan di media daring bongkarperkara.com pada 1 April 2026 mengangkat isu penting: etika jurnalistik dalam pemberitaan polemik tambang yang melibatkan anggota DPRD Bolaang Mongondow Timur, Rahman Salehe. Kritiknya tajam. Ia menilai sejumlah media online menyajikan berita sepihak, mengabaikan prinsip cover both sides, bahkan dituding menabrak Kode Etik Jurnalistik.

Niat itu patut dihargai. Kritik terhadap praktik jurnalistik memang perlu terus dihidupkan agar pers tetap berada di relnya. Namun, persoalannya tidak sesederhana hitam-putih: berimbang atau tidak, etis atau tidak. Ada konteks yang luput dibaca secara utuh.

Donal mempersoalkan pemberitaan yang hanya memuat pernyataan Rahman Salehe tanpa menghadirkan tanggapan dari pemerintah daerah. Ia menyebut hal itu sebagai bentuk pengabaian prinsip dasar jurnalistik. Dalam konteks ideal, argumen ini benar. Jurnalisme memang menuntut verifikasi dan keberimbangan.

Namun, praktik di lapangan sering kali bergerak lebih dinamis, terutama dalam ekosistem media digital yang menuntut kecepatan. Isu yang diangkat Rahman Salehe saat itu merupakan isu hangat di wilayah Kotabunan. Dalam situasi seperti ini, media kerap memilih memecah satu isu besar menjadi beberapa berita dengan sudut pandang berbeda.

Model pemberitaan seperti ini bukan hal baru. Wartawan dapat menulis satu berita berbasis satu narasumber, lalu melengkapinya dalam berita lanjutan dengan narasumber lain. Pola ini justru memungkinkan isu tetap hidup di ruang publik, sekaligus memberi ruang eksplorasi yang lebih luas terhadap fakta.

Dengan kata lain, keberimbangan tidak selalu harus hadir dalam satu naskah berita. Ia bisa hadir dalam rangkaian berita. Ini praktik yang lazim, selama tidak ada upaya menyembunyikan fakta atau memanipulasi informasi.

Di titik ini, kritik Donal menjadi terasa tergesa. Ia seolah menilai keseluruhan praktik hanya dari satu potongan pemberitaan, tanpa melihat kontinuitas liputan. Padahal, dalam jurnalisme modern, keberimbangan bisa bersifat akumulatif.

Lebih jauh, Donal menilai pemberitaan tersebut merugikan kredibilitas pemerintah daerah. Pernyataan ini problematik. Kredibilitas sebuah institusi publik tidak semata ditentukan oleh bagaimana media memberitakannya, melainkan oleh bagaimana institusi itu bekerja dan merespons persoalan publik.

Ketika seorang anggota DPRD menyuarakan aspirasi masyarakat terkait perusahaan tambang, itu adalah bagian dari mekanisme kontrol. Kritik tersebut justru menjadi ujian bagi pemerintah daerah: apakah mampu merespons secara konkret, bukan sekadar retorika dalam forum resmi.

Di sini, fokus seharusnya tidak bergeser pada siapa yang diberitakan lebih dulu, melainkan pada substansi masalah. Apakah persoalan tenaga kerja lokal di lingkar tambang benar-benar ditangani? Apakah ada langkah nyata dari pemerintah daerah?

Tanpa jawaban atas pertanyaan itu, debat soal etika jurnalistik bisa kehilangan relevansi di mata publik.

Donal juga mengangkat isu “jurnalistik pesanan” yang ia nilai berbahaya. Ia benar dalam satu hal: praktik tersebut memang merusak kepercayaan publik. Namun, tudingan seperti ini seharusnya disampaikan dengan kehati-hatian ekstra, disertai bukti yang jelas.

Tanpa itu, kritik mudah berubah menjadi asumsi. Lebih jauh lagi, ia berpotensi menjadi bumerang, terutama jika penulis sendiri tidak sepenuhnya berada di posisi independen. Dalam dunia pers, independensi bukan sekadar klaim, melainkan harus tampak dalam sikap dan karya.

Bagian lain yang perlu dikritisi adalah penggunaan frasa “dinilai bodohi publik dan tabrak kode etik”. Kata “dinilai” mengandaikan adanya pihak lain yang memberikan penilaian. Jika penilaian itu berasal dari penulis sendiri, maka tulisan tersebut seharusnya ditempatkan secara tegas sebagai opini, bukan seolah-olah laporan berbasis sumber eksternal.

Di sinilah garis antara berita dan opini menjadi penting. Ketika batas itu kabur, publik justru berisiko menerima informasi yang tidak jernih.

Pada akhirnya, polemik ini menunjukkan satu hal: jurnalisme tidak hanya soal teknik, tetapi juga soal perspektif. Kritik terhadap media lain sah-sah saja, bahkan diperlukan. Namun, kritik itu harus berdiri di atas pijakan yang sama kuatnya—verifikasi, konteks, dan refleksi diri.

Pers tidak akan pernah steril dari perbedaan sudut pandang. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Yang perlu dijaga adalah integritas dalam menyajikan fakta, bukan sekadar memenangkan argumen.

Alih-alih saling menuding, ruang publik akan lebih sehat jika setiap pihak—wartawan, media, maupun pemerintah—fokus pada tanggung jawab masing-masing. Media menjaga akurasi dan independensi. Pemerintah menunjukkan kinerja nyata. Dan publik menilai dengan akal sehat.

Minggu, 30 Maret 2025

Idul Fitri: Makna Kemenangan di Balik Perayaan

Hari Raya Idul Fitri selalu dinantikan umat Muslim sebagai momen kebahagiaan dan perayaan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.

Di tengah suasana hangat penuh silaturahmi dan sukacita, terdapat makna mendalam yang menjadikan Idul Fitri bukan sekadar hari libur keagamaan, melainkan simbol kemenangan.

Kemenangan ini bukan hanya karena berhasil menahan lapar dan haus, tetapi juga pencapaian spiritual yang lahir dari upaya mengendalikan hawa nafsu dan memperbaiki diri. 

Selama Ramadan, umat Muslim melatih kepekaan sosial, memperbanyak ibadah, dan menguatkan ikatan spiritual dengan Sang Khalik. 

Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi momentum refleksi dan penyucian diri, bukan hanya perayaan semata.

Dalam tradisi Islam, kata "fitri" berarti kembali ke fitrah, yakni kesucian asal manusia. 

Setelah sebulan ditempa oleh ibadah dan pengendalian diri, diharapkan seorang Muslim kembali ke hati yang bersih, penuh kasih, dan empati. 

Maka, tak heran jika momen ini kerap digunakan untuk saling memaafkan, menghapus dendam, dan memperbaiki hubungan antarsesama.

Di berbagai daerah di Indonesia, suasana Idul Fitri terasa sangat khas. Mulai dari tradisi mudik, takbiran keliling, hingga sajian khas lebaran seperti ketupat dan opor ayam. 

Namun, lebih dari sekadar tradisi, esensi Idul Fitri terletak pada kesederhanaan dan keikhlasan untuk berbagi serta memaafkan.

Para ulama menyebutkan bahwa keberhasilan Ramadan diukur dari perubahan perilaku pasca-Ramadan. 

Apakah semangat kebaikan yang dibangun selama puasa tetap terjaga, atau justru kembali pada kebiasaan lama? 

Inilah tantangan sejati bagi setiap Muslim setelah Idul Fitri mempertahankan semangat spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks kehidupan sosial, Idul Fitri juga menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas dan persaudaraan. 

Umat Islam diajak untuk tidak hanya fokus pada ibadah ritual, tetapi juga pada nilai-nilai sosial seperti keadilan, kepedulian, dan kejujuran. 

Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera.

Dengan demikian, Idul Fitri adalah tonggak spiritual yang mengingatkan umat akan pentingnya menjaga nilai-nilai kebaikan secara konsisten. 

Kemenangan yang dirayakan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjalanan hidup yang lebih bermakna.

Mengapa Idul Fitri Disebut Hari Kemenangan? Ini Makna Sejatinya!

Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, Idul Fitri menjadi hari kemenangan yang penuh dengan kebahagiaan dan kebersamaan.

Kemeriahan perayaan ini terasa di setiap sudut, dari suara takbir yang menggema hingga tradisi saling bermaafan yang mempererat hubungan antar sesama.

Lebih dari sekadar perayaan, Hari Raya Idul Fitri memiliki makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai spiritual dan sosial dalam kehidupan umat Islam. 

Momen ini bukan hanya tentang berbuka dari puasa, tetapi juga sebuah refleksi atas perjalanan spiritual yang telah dilalui selama Ramadan. 

Nilai-nilai seperti keikhlasan, kepedulian, dan kesederhanaan menjadi bagian penting dari makna Idul Fitri.

Setiap daerah di dunia memiliki tradisi unik dalam merayakan Idul Fitri, mulai dari shalat Idul Fitri berjamaah, silaturahmi ke rumah sanak saudara, hingga berbagi kebahagiaan dengan sesama melalui zakat dan sedekah. 

Semangat berbagi dan kasih sayang inilah yang menjadikan Idul Fitri sebagai perayaan yang penuh keberkahan.

Dalam konteks modern, Hari Raya Idul Fitri juga menjadi kesempatan untuk memperkuat solidaritas sosial. 

Tidak hanya di lingkungan keluarga, tetapi juga dalam skala yang lebih luas seperti masyarakat dan komunitas. 

Tradisi mudik atau pulang kampung yang masih kuat di berbagai negara menunjukkan betapa pentingnya kebersamaan dalam perayaan ini.

Lalu, apa sebenarnya makna filosofis dari Hari Raya Idul Fitri? 

Bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? 

Artikel ini akan mengulas lebih dalam tentang filosofi dan makna di balik perayaan besar ini.

Ulasan Lengkap Makna Filosofi Hari Raya Idul Fitri

1. Idul Fitri Sebagai Hari Kemenangan

Hari Raya Idul Fitri sering disebut sebagai hari kemenangan karena menandai berakhirnya perjuangan selama Ramadan. 

Setelah sebulan penuh menahan lapar, haus, serta mengendalikan hawa nafsu, umat Muslim merayakan keberhasilan ini dengan penuh syukur. 

Kemenangan ini bukan hanya dalam arti fisik, tetapi juga kemenangan spiritual dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

2. Makna Kembali ke Fitrah

Kata "Idul Fitri" sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti kembali ke fitrah atau kesucian. 

Hal ini mencerminkan bahwa setiap Muslim yang telah menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan akan kembali pada keadaan yang lebih bersih, baik dari segi spiritual maupun moral. 

Ini menjadi momentum bagi setiap individu untuk memperbaiki diri dan menjaga kesucian hati.

3. Filosofi Silaturahmi dan Saling Memaafkan

Salah satu tradisi utama dalam perayaan Idul Fitri adalah saling bermaafan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya sikap rendah hati, lapang dada, dan menjalin hubungan baik dengan sesama. 

Dengan memaafkan dan meminta maaf, seseorang dapat melepaskan beban emosional dan memulai lembaran baru dengan hati yang lebih tenang dan damai.

4. Zakat Fitrah Sebagai Bentuk Kepedulian Sosial

Zakat fitrah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri. 

Ibadah ini memiliki makna mendalam dalam hal kepedulian sosial, karena bertujuan untuk membantu mereka yang kurang mampu agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. 

Ini menunjukkan bahwa Islam menekankan keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan dan hubungan antar sesama manusia.

5. Tradisi dan Budaya Perayaan Idul Fitri

Meskipun memiliki makna yang sama, perayaan Idul Fitri di berbagai negara memiliki tradisi yang beragam. 

Di Indonesia, misalnya, tradisi mudik menjadi bagian yang sangat dinantikan oleh banyak orang. Sementara itu, di beberapa negara Timur Tengah, perayaan lebih banyak diisi dengan acara makan bersama dan kegiatan sosial lainnya. 

Keanekaragaman ini menunjukkan bahwa Idul Fitri bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga momen budaya yang mempererat persaudaraan.

Rabu, 18 Desember 2024

Bahasa dan Filosofi: Menemukan Makna di Balik Pertanyaan Dasar


Filosofi merupakan disiplin ilmu yang mendasari segala bentuk pemikiran manusia, termasuk pertanyaan mendalam mengenai “Apa?” dan “Siapa?”. 

Pertanyaan ini mengacu pada pencarian hakikat, eksistensi, dan makna dalam kehidupan. 

Menurut para ahli bahasa, filosofi dalam konteks ini tidak hanya menyentuh ranah keilmuan, tetapi juga bagaimana bahasa menjadi medium untuk memahami dunia dan diri kita sendiri.

Makna Pertanyaan "Apa?"

Pertanyaan “Apa?” berfokus pada esensi sesuatu. Dalam filsafat, pertanyaan ini sering digunakan untuk menggali sifat dasar dari sebuah objek, ide, atau fenomena. Ahli bahasa, seperti Ferdinand de Saussure, mengemukakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang membantu manusia mendefinisikan dan memahami konsep-konsep ini.

Sebagai contoh, ketika seseorang bertanya, "Apa itu kebahagiaan?", mereka sebenarnya mencoba memahami hakikat kebahagiaan sebagai konsep universal. Ahli bahasa menunjukkan bahwa kata “kebahagiaan” membawa makna yang berbeda di setiap budaya atau individu, tergantung pada pengalaman dan konteksnya.

Ahli filsafat Yunani, Aristoteles, pernah menggarisbawahi pentingnya memahami esensi sebagai langkah pertama dalam mempelajari sesuatu. Dalam hal ini, bahasa memainkan peran penting sebagai alat yang memungkinkan manusia menyusun definisi dan pemahaman.

Makna Pertanyaan "Siapa?"

Pertanyaan “Siapa?” mengarah pada identitas dan eksistensi individu atau kelompok. Dalam kajian linguistik, pertanyaan ini sering dikaitkan dengan penggunaan kata ganti, nama, atau identifikasi dalam komunikasi. Noam Chomsky, salah satu tokoh linguistik modern, menekankan pentingnya struktur bahasa dalam membentuk identitas manusia. Ia berpendapat bahwa bahasa tidak hanya mencerminkan siapa kita, tetapi juga membentuk cara kita memandang diri sendiri dan orang lain.

Sebagai contoh, saat seseorang bertanya, "Siapa pahlawan dalam cerita ini?", mereka tidak hanya mencari nama, tetapi juga identitas dan karakteristik yang membuat seseorang disebut sebagai pahlawan. Dalam konteks ini, bahasa membantu manusia menciptakan narasi dan memberikan makna pada identitas.

Peran Bahasa dalam Filosofi "Apa?" dan "Siapa?"

Bahasa adalah medium utama yang digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar ini. Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf bahasa, berpendapat bahwa batasan bahasa adalah batasan dunia kita. Dengan kata lain, apa yang dapat kita pahami dan ekspresikan sangat bergantung pada kemampuan bahasa kita.

Menurut Wittgenstein, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga alat untuk berpikir. Ketika seseorang bertanya “Apa?” atau “Siapa?”, mereka sebenarnya sedang membangun realitas melalui struktur bahasa. Contohnya, definisi suatu objek atau identitas seseorang dapat berubah tergantung pada kata-kata yang digunakan untuk menggambarkannya.

Relevansi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pertanyaan “Apa?” dan “Siapa?” memiliki implikasi yang sangat luas dalam kehidupan manusia. Dalam dunia pendidikan, pertanyaan “Apa itu pendidikan?” membantu menggali tujuan dan makna dari proses belajar. Di sisi lain, pertanyaan “Siapa guru terbaik?” mengarah pada pencarian figur inspiratif yang membentuk karakter siswa.

Di bidang sosial, pertanyaan-pertanyaan ini membantu manusia memahami budaya, tradisi, dan nilai-nilai masyarakat. Misalnya, pertanyaan “Apa arti keluarga?” dan “Siapa anggota keluarga terdekat?” membantu seseorang merenungkan posisi dan peran dalam struktur keluarga.

Filosofi tentang “Apa?” dan “Siapa?” membawa manusia pada perjalanan intelektual yang mendalam. Dengan bantuan ahli bahasa, pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya menemukan jawaban, tetapi juga menciptakan ruang untuk refleksi lebih lanjut. Bahasa, sebagai alat utama manusia, berperan besar dalam mendefinisikan, memahami, dan menyampaikan makna di balik pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Seperti yang dikatakan Wittgenstein, "Dunia manusia dibangun oleh bahasanya." Maka, memahami filosofi di balik “Apa?” dan “Siapa?” adalah langkah awal untuk memahami diri kita sendiri dan dunia di sekitar kita.

Kamis, 08 Agustus 2019

Selamat Jalan, Sahabat


Saya baru tiba di kantor ketika berita itu sampai. Di ujung telepon istri saya menyampaikan kabar yang ia dengar: Candra Modeong wafat. Tak percaya, rasanya. Saya tak menelepon siapapun untuk konfirmasi. Bersegera membuka medsos dan menelisik status kawan-kawan. Masih tak percaya, rasanya, walau telah ramai ucapan belasungkawa.

Di hari itu, Selasa (6 Agustus 2019), beberapa saat sebelum kabar itu sampai saya dirundung sedih. Tiba-tiba didera rindu pada ibu, yang telah almarhum sejak delapan belas tahun silam. Mata berkaca. Dan di tengah sendu itulah saya mendengar kabar sedih yang lain.

Can dan atau "Inyo" --demikian teman dan karib kerabat biasa menyapanya-- hanyalah seorang teman. Tak sungguh-sungguh dekat, namun tak berjarak. Di kala bereriungan dengan kawan-kawan, dalam obrolan serius atau bergurau, saya selalu menemukan keakraban dengannya.


Jauh sebelum Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) terbentuk, saya telah mengenalnya. Ketika tiga kecamatan (Kotabunan, Tutuyan, Nuangan) masih sebagai Kecamatan Kotabunan yang utuh, kami mahasiswa dan pelajar asal Kotabunan yang berada di Manado dan sekitarnya membentuk organisasi bernama Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Kotabunan (HPMK) --dan Can terlibat di dalamnya untuk menginisiasi bersama Fahri Mokoagow dan beberapa teman lainnya. Semasa pelajar, dia aktif di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) dan saya di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Saya mengenalnya sebagai aktivis sejak usia belia. Sewaktu Boltim terbentuk, saya menaruh harap pada sekian aktivis muda yang bisa diandalkan menjadi pilar penopang perkembangan daerah ini di masa depan. Termasuk, Can dan Fandi Potabuga. Namun, pada 2011, Fandi dijemput ajal. Aktivis IMM ini mangkat di usia masih muda.

Karena itulah, Can, .... 
Saya teringat sebuah kutipan Soe Hoek Gie dalam Catatan Harian Seorang Demonstran: "Kehidupan terbaik itu adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua adalah mati muda." Gie juga mati muda.


Dalam amatan saya, Can adalah aktivis yang senantiasa "bergerak dan menggerakkan". Dia seorang yang dinamis dan komunikatif. Itulah yang saya saksikan dari reaksi orang-orang ketika kabar meninggalnya tersiar dan luberan manusia yang menyambut kedatangan jenazahnya hingga saat pemakaman. Lautan kesedihan itu menunjukkan eksistensinya di Boltim dan sekitarnya.

Ada banyak cerita terserak di hari kematian Candra. Ada banyak manfaat dari kehadiran tokoh ini bagi orang-orang di sekelilingnya. Tak heran, kematiannya yang mendadak itu, mengundang pilu mendalam. Rasa kehilangan yang massif. Rasa tak percaya bahwa Candra Modeong telah tiada.

Memang, Candra selalu terlibat untuk orang lain. Dilibatkan atau melibatkan dalam penyelesaian kegentingan bagi banyak orang. Dengan ingatan itulah nanti orang-orang mengenang dirinya.

Karena itulah, Can ....
Jika kelak, Can, saya --atau temanmu yang lain-- bertemu Neca dan Abo, anak-anakmu, yakinlah kami akan mengisahkan sosokmu yang membanggakan hati mereka.


Oleh: Ahmad Alheid

Selasa, 07 Agustus 2018

Pemuda dan Abad Modern

Ilustrasi

Pertama kita mesti sama sama memahami dulu apa sebenarnya arti ‘Abad Modern’. Sebab sesungguhnya, manusia di setiap zaman menganggap  bahwa zamannya sebagai Abad Modern dan menilai masa lampau sebagai zaman kuno yang kurang berfaedah dan kolot serta tidak memiliki kebaikan dan  kelebihan. Bahkan umat yang hidup pada masa itu dipandang terbelenggu oleh kemunduran dan kebodohan.  

Sedangkan kurunnya adalah zaman modern. Ummat yang hidup di zaman Modern konon merupakan manusia – manusia cemerlang, berkebudayaan dan dihiasi berbagai ilmu pengetahuan, penemuan ilmiah dan kemajuan – kemajuan yang mencengangkan, serta memiliki hal – hal yang tidak dimiliki oleh ummat terdahulu. 

Memang seluruh manusia di setiap zaman selalu saja terperangkap oleh praduga yang salah ini. Kendati pun kita telah melihat bahwa manusia tidak mengalami perubahan sama sekali sejak manusia pertama (Adam Alaihi Salam) hingga saat ini; bentuk otaknya sama, cara berfikirnya sama, tuntutan jasmaninya sama, tak ada perbedaan penting sama sekali dalam hal ini. Sebab, fitrah yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada seluruh manusia sama dengan fitrah yang Dia berikan kepada Adam As. 

Inilah rahasianya bahwa kemungkaran kaum Luth pada kira – kira 4000 tahun yang lalu –sebagai misal- dapat kita saksikan kembali di zaman –yang dianggap- modern ini. Setelah 4000 tahun berselang, ternyata kemungkaran serupa muncul di Negara – negara yang telah mencapai peradaban tinggi dan Negara – negara maju, ambil contoh Amerika yang mengklaim bahwa semua Negara di seantero Bumi tak ada yang mampu mengungguli kemajuan dan kejayaan negerinya. Bukankah itu suatu bentuk kecil dari kemungkaran? Lantas, perbedaan apakah yang muncul dalam fitrah manusia dalam jangka waktu berates – ratus abad itu?  Sungguh sama sekali tak ada perbedaan yang penting.

Contoh lain, di zaman peradaban Mesir yang pada saat itu Fir’aun berjaya di zamannya, pernah meminta kepada Menterinya agar dibuatkan gedung yang tinggi untuk dirinya supaya dia bisa melihat dimana, siapa, dan bagaimana bentuk serta rupa Tuhan Musa. Kini setelah kira – kira 3500 tahun berlalu, kita mendengar ucapan senada, yakni ketika Sputnik di luncurkan Sovyet dan tingginya dari bumi ke angkasa luar mencapai 150 – 250 mil, pemimpin Sovyet tertinggi  –kala itu Khruschev- membusung dada dan berkata, “Kita telah menjangkau langit, akan tetapi kita tidak menemukan wujud Tuhan”.

Jelaslah bahwa dalam kurun waktu yang demikian panjang itu, Intelektualitas manusia belum bisa diluruskan. Pola pikir dan pandangan manusia terhadap berbagai hal belum berubah dan masih tetap sama seperti pada zaman kuno.  Bedanya, kalau masa lampau Fir’aun hanya mampu mendirikan gedung yang tinggi untuk merealisasikan tujuannya sampai batas maksimal, sedangkan orang – orang yang ingkar pada saat ini dan memiliki kekuasaan telah mampu menciptakan macam – macam satelit dan pesawat ruang angkasa. Artinya, kemajuan yang dicapai hanyalah dalam bidang Teknologi, bukan dalam bidang Intelektualitas.

Pada Zaman Nabi Nuh, Dunia menyaksikan orang – orang yang mengenal kebenaran, mengimani dan berjuang untuk mempertahankannya. Kini Dunia pun melihat kelompok manusia yang membawa dan menyeru Ummat kepada kebenaran, berjuang demi kebenaran. Kebaikan tetap seperti dahulu, pun kejahatan tetap tak berubah. Memang banyak kemajuan yang telah dicapai oleh manusia; media komunikasi, penemuan – penemuan ilmiah yang digunakan dalam segala aspek kehidupan. Tetapi, tak ada perbedaan dalam tabi’at manusia, dan kalaupun ada maka perbedaan tersebut tidaklah mendasar dan hanya dalam cara saja.

Memang manusia di setiap masa selalu menganggap kemajuan yang dicapai pada masanya itu merupakan titik akhir dan sumbu dari suatu sirkulasi. Pada penghujung abad yang lalu, tampil para cendekiawan dan filosof mengemukakan ide bahwa perkakas besi atau apa saja yang lebih berat dari udara, tak mungkin dapat terbang di Udara. Mereka tandaskan bahwa hal tersebut mustahil terjadi. Belum lama ide – ide tersebut muncul, alat – alat yang terbuat dari besi sudah bisa membumbung tinggi di Udara pada sepuluh tahun pertama di Abad 20. Benar saja orang – orang yang dahulu mengatakan bahwa hal itu mustahil kini malah mendukungnya. Inilah sebenarnya apa yang mereka namakan Abad Modern.

Manusia di setiap zaman mengira bahwa mereka telah mencapai puncak kemajuan. Namun pada masa berikutnya pintu kemajuan semakin lebar dan jauh lebih tinggi. Demikian halnya dengan filsafat yang berlaku kini tidaklah sama dengan filsafat yang berlaku pada awal abad ini. Ungkapan ini bisa dianalogikan kepada ilmu – ilmu eksakta, sebab prinsip – prinsip ilmu alam abad ini berbeda dengan prinsip – prinsipnya pada abad yang lampau. Tak jauh berbeda dengan Akhlaq, fenomena nudis dan pergaulan bebas yang digembar gemborkan sebagai suatu kebebasan absolut pada awal abad ini, kini ia mendapat predikat “Kuno”.

Nah, setelah kita memahami dengan seksama dan dalam tempo yang singkat hakekat dari pada Abad Modern dalam catatan ini, kini kita melangkah pada point kedua tentang Pemuda.

Apa Arti Pemuda

Apa itu Pemuda,? Apa yang dimaksud dengan Pemuda?  Pertama kita perlu sepakat tegaskan bahwa, tidak semua pemuda baik, tapi juga tidak jahat seluruhnya. Sepakat.? Jika ia, mari kita lanjutkan catatan ini.

Pemuda adalah laksana darah yang sedang menggelegak, sikapnya peka terhadap hal – hal yang baru. Bila pemuda terpikat pada suatu hal yang dianggapnya layak untuk diburu, ia tak akan segan – segan mengorbankan jiwa untuk menggapainya tanpa memperdulikan apakah hal itu baik atau buruk. Potensi pemuda ini tak ubahnya seperti pedang nan tajam. Ia bisa digunakan oleh pejuang di jalan Allah dan dapat pula dipakai oleh para perampok. Dahulu, biang keladi dari kejahatan dan kemunkaran adalah pemuda. 

Namun, mereka juga merupakan laskar pejuang yang menjunjung tinggi panji kebenaran dan perdamaian. Pemuda jauh lebih agresif dibanding orang tua baik dalam kebaikan atau dalam kejahatan. Hal ini merupakan fenomena yang jelas terlihat di setiap zaman tanpa terkecuali. Para pemudalah yang paling pertama mengalami dekadensi moral yang menjalar ke seluruh permukaan bumi saat ini. Jika seorang pemuda mengjendaki kebajikan dan hatinya mantap untuk jadi orang baik – baik, tumbuh dalam dirinya motivasi untuk mengorbankan jiwa raganya demi menggapai kebajikan itu, menyingkirkan segala kendala yang menghadangnya meskipun hal itu riskan bagi dirinya, semangat untuk menyebarluaskan kenajikan –dengan ilmu dan amal – amal menggelora-.

Ambil missal kebudayaan Mesir Kuno, -tatanannya tak jauh berbeda dengan tatanan kebudayaan Amerika dan Eropa saat ini-. Kemudian muncul satu – satunya Pemuda yang muak dengan kebobrokan kultur saat itu, dengan gigih ia memporak porandakan seluruh kebobrokan dan kejahatan yang menyelimuti kebudayaan pada masanya, pemuda tersebut adalah Yusuf Alaihissalam.  

Dia hindarkan dan membasmi segala keserakahan dan kegandrungan gila yang bersemayam dalam kebudayaan itu, kaum wanita yang nyaris menyerahkan kehormatan dan menjerumuskan diri ke lembah kejahatan, beliau robah mereka menjadi kaum Wanita yang cinta akan kesucian diri. Dia nyatakan kepada khalayak ramai padahal Ia tengah berada di balik terali besi, bahwa Ia tak mau menyembah Tuhan – tuhan bangsa Mesir yang batil dan palsu, dan mengaku keesaan Allah Yang Maha Tunggal dan Maha Perkasa. 

Dibawah pimpinan Yusuf lah Negeri Mesir berhasil ditaklukkan bukan dengan tentara yang  diperlengkapi senjata, melainkan semata – mata dengan kesucian Akhlak, ilmu dan kecerdasan yang telah Allah anugerahkan kepadaanya.

Contoh lain pada Rasulullah ketika beliau mulai menyeru manusia kepada kebenaran, para pimpinann Makkah berang. Mereka menentang dengan tegas seruan Rasul dan menghalanginya dari jalan Allah. Saat itu, kaum muda lah yang tampil di front paling depan dari masing – masing pihak yang sedang berkkonfrontasi. 

Di satu pihak, para pemuda kafir menganiaya Nabi dan para sahabatnya serta menimpakan kepada mereka aneka macam siksaan dan intimidasi karena hasutan keji pemimpin mereka. Sementara di pihak lain, yakni para pemuda Makkah yang beriman dengan penuh keikhlasan, kita melihat mereka dengan gigih membela kebenaran dan mempertahankannya. Mereka tak segan – segan mengorbankan diri demi tegaknya kebenaran. Mereka itulah pemuda – pemuda yang tak henti – hentinya menerjang api para Namrud.

Ketika belahan Bumi Makkah terasa sempit, mereka –pengikut Nabi- memilih hijrah ke Habasyah dan Madina tanpa sedikitpun terbesit dalam benak mereka bahwa cobaan dan siksaan apalagi yang akan menghadang mereka di tempat yang baru itu. Kaum muda lah –pemuda dan pemudi- yang membukukan pengorbanan jiwa raga mereka di jalan Haq, padahal mereka berasal dari kalangan keluarga yang memusuhi Islam. Berkat pengorbanan dan kepahlawanan mereka yang demikian gigih, berkibarlah panji Islam diatas persada Dunia, mereka telah menciptakan perombakan akbar yang berlangsung beberapa abad lamanya. Perombakan tersebut masih dan tetap akan ada selama langit membentang dan Bumi menghampar dengan Izin Allah Yang Maha Agung dan Maha Perkasa.

Pembaca yang budiman, mari kita layangkan pandangan kita sejenak kepada “Abad Modern” yang teramat sering disanjung dan dibangga – banggakan sebagai abad kemajuan dan kejayaan, era yang sarat dengan berbagai pemikiran Briliant. Salah satu yang menonjol dalam abad ini adalah kemajuan di bidang sains. Kendatipun kemajuan ini patut dihargai dan dibanggakan, bukan tidak mungkin penggunaannya bisa memporak – porandakan dan membinasakan Ummat manusia yang berbuntut menebarnya nestapa jauh lebih banyak ketimbang kesejahteraan dan kebahagiaan bani Adam. Dengan adanya kemajuan Sains ini, kini ditemukan berbagai jenis dan model senjata lengkap dengan peralatannya yang amat sangat berbahaya untuk menghancur-luluhkan segenap suku bangsa. 

Berbagai penemuan ini sengaja dipersiapkan untuk menyengsarakan manusia, suatu keganasan yang tidak ada tolak bandingnya dalam sejarah. Ditemukannya methode dalam kancah Spionase tak berarti sama sekali bagi kehidupan manusia secara khusus. Berbagai studi digalakkan untuk memproduksi manusia dengan suatu cara yang instant. Yakni melalui laboratorium. Tentu saja mereka yang terlahir dari methode ilmiah seperti ini, tak memiliki ikatan dengan keluarga, apalagi sifat fitrah sebagaimana manusia pada umumnya, tak mengenal tradisi turun – temurun, bahkan tak punya silsilah keturunan yang membentang panjang. 

Demikianlah kalangan cendikiawan non agamis yang sombong dan ujub itu sampai pada puncak pembangkangannya untuk membentangkan –kepada manusia- zaman perhambaan paling up to date dan paling busuk, hingga manusia jatuh melorot ke derajat yang amat papah bagai hewan. 

Beginilah kemajuan sains yang dibanggakan itu dan yang mendakwahkan diri bahwa ia telah menjunjung tinggi derajat manusia ke ufuk langit. Padahal hakekatnya justru menjatuhkan manusia ke kerak jurang kehinaan yang paling dasar.

Lantas, sebagai pemuda yang tengah berada di persimpangan jalan, apa yang seyogyanya perlu dipersiapkan guna menyambut tantangan “Abad Modern” ini? Hanya ada dua hal yang perlu anda garap kawan, paling tidak ini bisa sedikit membuka pikiran (bagi yang belum tahu) dan  memberikan pencerahan (bagi yang sudah tahu tapi pura – pura bodoh). 

Pertama, hendaknya perlu diketahui secara utuh hidayah yang Allah turunkan kepada Rasulullah Saw., Imani hidayah tersebut dengan tulus dan ikhlas sepenuh hati, jadikan ia sebagai bagian dari kehidupan di dunia ini agar Kalimatullah membumbung tinggi dan dan Kalimatul kufri hina semata.
Kedua, hendaknya perlu persenjatai diri dengan akhlak atau budi pekerti yang luhur, sehingga para penyeru kesesatan mengubah haluan hidupnya sama sekali, dan para pengikut mereka kembali kepada kebenaran, jalan yang lurus bagi fitrah manusia.

*Penulis mendapat bahan dari buku Abul 'Ala Maududi, Prof. Ahmad Muhammad Jamal, Prof. Ahmad Abdul Nasher hingga tulisan ini dibuat.


Sabtu, 23 September 2017

Sehan Diundang Ceramah di Tondano


Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 Hijriyah, Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Sehan Landjar SH, menghadiri undangan untuk memberikan ceramah di masjid Al Falah Kampung Jawa Tondano. Lewat ceramah di hadapan ratusan jemaah ini, Sehan mengatakan bahwa, momentum tahun baru Islam harus dijadikan landasan dan awal untuk merubah diri menjadi lebih baik dari sebelumnya.

"Rasullah adalah pemimpin terbaik yang dipilih oleh Allah dari semua manusia di muka bumi," kata Sehan.

Ia menambahkan, sebagai umat muslim pengikut sunnah Rasulullah, wajib hukumnya untuk selalu bermunajat dan bershalawat kepada Nabi akhir zaman Muhammad Rasulullah SAW. "Dengan bershalawat, mudah-mudahan derajat kita akan lebih baik di hadapan Allah," tambah Sehan yang turut diaminkan oleh seluruh jamaah yang hadir.

Lanjut Sehan, peringatan 1 Muharram seperti ini telah menjadi tradisi dan membudaya bagi kaum muslimin. Bahkan dalam memperingatinya, umat muslim di Indonesia melakukan berbagai kegiatan yang tujuannya untuk ibadah. "Sebenarnya secara implisit ini tidak ada. Tidak ada dalil kuat bahwa kita harus memperingatinya. Namun, penting bagi kita untuk selalu mengingat semua sejarah islam di masa Rasulullah termasuk 1 muharram ini," jelasnya.

Ia juga menerangkan, akan lebih baik lagi jika seluruh ajaran dan sunnah Rasulullah dilaksanakan dan ditaati oleh kaum muslim saat ini. "1 muharram adalah tahun baru islam yang mulai diberlakukan ketika Rasulullah berumur 53 tahun atau tepat 13 tahun masa kerasulannya. Jauh sebelumnya Rasulullah telah mengingatkan kepada umatnya bahwa akan ada beberapa tahapan kepemimpinan. Pertama kepemimpinan Rasul, kedua khalifah dan berikut kata Nabi, akan lahir pemimpin pembohong," ungkapnya.

Tidak hanya itu, diterangkannya bahwa umat Islam sebenarnya sangat banyak. Tapi jumlah tersebut laksana buih di laut yang tercerai berai. Masjid bukan hanya sebagai tempat Shalat, tapi lebih baik juga dijaidikan sebagai Islamic Center atau tempat kajian, diskusi serta menjaga silaturahmi.

"Sulut memiliki 2,6 juta penduduk di 11 kabupaten dan 4 Kota. 39 persen didalamnya adalah umat muslim. Semoga dengan momentum ini kita khususnya muslim di Sulut akan lebih solid, jangan terpecah belah apalagi terpancing dengan isu-isu miring," tutup Bupati yang dikenal sangat religius ini.

Senin, 04 September 2017

UNTUK ROHINGYA


Jamal Rahman Iroth
UNTUK ROHINGYA

syair apa dapat kutulis dengan hati gemetar
untuk rohingya terbebas tragedi barbar
keluar dari perangkap kebencian berkobar
dari rakhine menyeberangi sungai naf
di bawah langit remuk dan berdarah

syair apa dapat kutulis dengan hati gemetar
pada tangis rintih bayi-bayi na'as
pada rasa takut kaum tertindas
pada tubuh ditumpas
pada napas dirampas
pada peradaban luka selamanya membekas

syair apa dapat kutulis dengan hati gemetar
sedang jiwa harus berdamai dengan pedih
saat nurani menahan, jangan memaki
bibir mesti tetap dikatup, tidak melaknati

syair apa dapat kutulis dengan hati gemetar
sungguh, estetika mana kulanggar
jika kutuk meledak di ujung pena
kertas-kertas terbakar
lenyap seluruh catatan kelam
agar kebengisan tak jadi kekal

Jamal Rahman Iroth, 03 Sept 2017

-----------------------------------------

ROHINGYA

Rohingya adalah sebuah kelompok etnis Indo-Arya dari Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan, atau Rohang dalam bahasa Rohingya) di Burma. Rohingya adalah etno-linguistik yang berhubungan dengan bahasa bangsa Indo-Arya di India dan Bangladesh (yang berlawanan dengan mayoritas rakyat Burma yang Sino-Tibet).

Muslim dilaporkan telah menetap di negara bagian Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan) sejak abad ke-16, meskipun jumlah pemukim Muslim sebelum pemerintahan Inggris tidak diketahui dengan pasti.

Setelah Perang Anglo-Burma Pertama tahun 1826, Inggris menganeksasi Arakan dan pemerintah pendudukan mendorong terjadinya migrasi pekerja dari Bengal datang kesana untuk bekerja sebagai buruh tani.

Diperkirakan terdapat 5% populasi Muslim yang mendiami Arakan pada tahun 1869, meskipun perkiraan untuk tahun sebelumnya memberikan angka yang lebih tinggi. Inggris melakukan beberapa kali sensus penduduk antara tahun 1872 dan 1911 yang hasilnya mencatat peningkatan jumlah populasi Muslim dari 58.255 ke 178.647 di Distrik Akyab.

Selama Perang Dunia II, pada tahun 1942 terjadi peristiwa pembantaian Arakan, dalam peristiwa ini pecah kekerasan komunal antara rekrutan milisi bersenjata Inggris dari Angkatan Ke-V Rohingya yang berseteru dengan orang-orang Budha Rakhine. Peristiwa berdarah ini menjadikan etnis-etnis yang mendiami daerah menjadi semakin terpolarisasi oleh konflik dan perbedaan keyakinan.

Pada tahun 1982, pemerintah Jenderal Ne Win berlaku hukum kewarganegaraan di Burma. Undang-undang tersebut menolak status kewarganegaraan etnis Rohingya. Sejak tahun 1990-an, penggunaan istilah "Orang-orang Rohingya" telah meningkat dalam penggunaan di kalangan masyarakat untuk merujuk penyebutan etnis Rohingya.

Pada 2013 sekitar 1,3 juta orang Rohingya menetap di Myanmar. Mereka mayoritas mendiami kota-kota Rakhine utara, di mana mereka membentuk 80-98% dari populasi. Media internasional dan organisasi hak asasi manusia menggambarkan Rohingya sebagai salah satu etnis minoritas yang paling teraniaya di dunia.

Menghindari kekerasan di daerahnya banyak di antara orang-orang Rohingya yang melarikan diri ke pemukiman-pemukiman kumuh dan kamp-kamp pengungsi di negara tetangga Bangladesh, dan sejumlah besar orang Rohingya juga bermukim didaerah sepanjang perbatasan dengan Thailand. Sementara itu lebih dari 100.000 Rohingya di Myanmar terus hidup di kamp-kamp untuk pengungsi internal dan mereka dilarang meninggalkan kamp-kamp pengungsian oleh otoritas setempat.

Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Rohingya

Selasa, 04 April 2017

Kejelian Mengemas Pariwisata Boltim

MENGUNJUNGI suatu tempat wisata adalah salah satu cara menikmati kekayaan alam, melihat kebesaran Tuhan dengan melihat ciptaanNya. Dalam sebuah perjalanan wisata harus terkandung hal - hal yang bersifat memperkaya pengalaman dan wawasan kita yang mengalaminya. Karena itu lahir bentuk - bentuk perjalanan dengan berbagai tujuan, mulai dari bersenang - senang semata, tujuan pendidikan, penelitian, sampai untuk tujuan keagamaan.

Di era pembangunan dan otonomi Daerah yang kian kompleks seperti sekarang ini, setiap Daerah di Endonesya termasuk Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) tempat dimana saya ditempa ini, dituntut untuk bisa membiayai dirinya sendiri. Setiap Daerah harus bisa menciptakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Daerahnya. Pariwisata adalah sumber pendapatan yang tidak bisa dianggap sepele. Di satu sisi kita harus melestarikan seni dan budaya kita, disisi lain kita harus menciptakan pendapatan untuk merawat benda - benda seni tersebut. Kalau begitu mengapa tidak kita gabungkan saja antara wisata alam dan wisata sejarah.

Kita bisa mengembangkan wisata alam yang mengedepankan keindahan alam. Bisa juga kita tambahkan wisata sejarah. Banyak tempat - tempat bersejarah baik dimasa ratusan tahun sebelum kemerdekaan dan dimasa Endonesya menjelang dan setelah merdeka terdapat di beberapa Lokasi. Kita juga bisa menampilkan wisata religi, kuliner, wisata olahraga dan sebagainya.

Dan tahukah anda bahwa Daerah kita mempunyai alam yang indah. Tidak ada satupun provinsi di Endonesya yang tidak mempunyai objek wisata dengan alam yang indah. Jawa Barat saja kita ambil contoh, ada yang khas priangan, ada pula yang cirebonan. Kalau di Sumatera terkenal dengan suku pegunungan dan suku pesisir. Di Papua, ada satu pulau saja yang konon terdiri dari ratusan bahasa Daerah. Kalau bahasanya saja berbeda, tentu corak kebudayaannya juga menyimpan kekhasan masing - masing. Kaya betul memang budaya kita.

Namun, sebagai putra Daerah sekaligus anak bangsa yang bermartabat dalam mengembangkan pariwisata di Daerah tercinta ini, saya berprinsip bahwa kekayaan alam yang kita punya itu pertama kali harus bermanfaat dulu untuk kita. Harus kita dulu yang bisa memanfaatkan dan menggunakannya. Setelah itu, baru kita perbolehkan orang lain yang menjadi tamu kita menikmatinya.

Adalah hal baik sebaik baiknya baik kita memperlakukan tamu sebagai raja. Tetapi tamu juga harus tahu bahwa tuan rumah adalah raja diatas raja. Singkatnya kita yang harus berkuasa. Saya yakin dan percaya tentunya kalian tidak mau kita yang kaya, tetapi pihak asing yang beroleh keuntungan dari kekayaan kita.

Wajar jikalau kita kaget dengan potensi pariwisata kita yang begitu hebat, tapi belum bisa mempromosikan keunggulannya terhadap dunia luar. Untuk hal ini, mari kita contohi Singapura, apa sih keunggulan Singapura? Sungguh cukup terbatas keunggulannya. Namun mereka bisa mengemas tempat - tempat tertentu menjadi tempat wisata. Pemerintahnya memberikan fasilitas dan sarana penunjang yang terkonsep dengan baik, sehingga orang mau kesana. Dan itu menjadi sumber penghasilan Singapura.

Di Endonesya, khususnya Di Boltim, kita punya Danau, ada ikan - ikannya, dan masih sering dikunjungi masyarakat. Ada juga air terjun yang terletak di beberapa titik. Pulau - pulau dengan pasir putih, pantai yang saban hari banyak pengunjung meski hanya sekedar berleha - leha bermain dengan ombak bahkan pegunungan yang bisa menjadi tempat pendakian. Tapi sayang keunggulannya belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Padahal, semua tempat wisata di Daerah kita ini menarik untuk dikunjungi, tinggal konsep dan cara mengemasnya tepat atau tidak.

Tak bisa dipungkiri bahwa urusan Pariwisata ini memang semestinya kita harus belajar ke luar. Kalau saya jadi Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata, saya akan suru orang saya untuk datang ke objek wisata di luar Daerah. Mereka ini harus mencatat semua kegiatan orang di objek wisata itu dari pagi sampai malam, selama sepekan. Kemudian pulang. Kita lihat dari jadwal kegiatan itu apa yang dikerjakan orang disana.

Barulah kita bisa memutuskan apa yang harus kita lakukan, dan apa yang harus kita bangun. Apakah harus membangun jalan, jembatan, atau rute khusus wisata? Kemudian kita biayai pembangunannya, kita kelola. Wisatawan akan berdatangan, karena objek wisatanya tertata dengan baik dan tepat. Apatah lagi didukung dengan kelengkapan sarana dan prasarananya.

Ambil contoh New Zeland di Auckland. Hanya bangunan menara pengawas saja saudara - saudara. Tapi dengan jumlah yang banyak. Namun orang yang naik diatas menara itu penuh. Mau naik kalian harus bayar. Sesampainya diatas menara, apa yang kalian lihat? Adalah Auckland dari ketinggian, berfoto - foto dari ketinggian, dan beli souvenir. Hanya itu kawan. Hanya itu sebenarnya, tetapi mereka mengemas perjalanan wisatanya dengan baik. Orang yang naik diatas menara, diberi penerangan apa saja yang mereka lihat.

Jadi, kembali saya katakan kemasan dan informasi ini harus diurus dengan baik dan serius. Tiap objek wisata dibahas secara detail dan menarik, sehingga orang menjadi tertarik untuk berkunjung dan melihat langsung. Nah yang menjadi kelemahan kita di Daerah ini, promosi pariwisata tidak berjalan dengan baik. Kita hanya membuat selebaran kecil untuk mewakili semua objek wisata kita. Coba bikin secara khusus. Misalnya kalau membahas pulau dengan pasir putih yang bagus, bahas secara lengkap. Jangan hanya gambar - gambar objek wisata itu muncul dalam gambar kecil - kecil, tidak ada keterangan pula. Kalau seperti itu, siapa yang mau datang? Kalau orang tidak mengerti apa yang ada di dalam gambar, bagaimana mau tertarik?

Di Daerah kita ada suatu Pulau pasir putih yang bagus yakni Pulau Nenas (Bombuyanoi Island), selain itu juga ada Pantai Tanjung Woka, air terjun, danau dan masih banyak lagi. Tapi promosinya belum maksimal. Jadi, siapa yang bisa tahu?

Pembangunan Daerah wisata juga harus matang konsep. Baik tema, akses bahkan sampai pada jaminan keselamatan. Berkaitan dengan tema, kalau kita ke Papua, ada hotel dengan nuansa honai. Semua seperti honai. Meski dari dalam bangunannya sudah dibuat modern, tapi itulah salah satu cara menarik untuk mencari tahu apa itu honai. Disini dilengkapi juga dengan sejarah dan cara pembangunan honai. Selain itu, Toraja. Orang ke Toraja, mereka harus menemukan rumah Toraja. Memang bangunan dan fasilitasnya juga sudah serba modern. Tapi jangan membangun hotel bintang lima disana, sebab akan tidak menarik.

Selanjutnya akses. Betapa penting pengadaan transportasi ke Daerah wisata menjadi mudah. Sekali orang yang datang bilang Boltim is Beautiful, Pasti ramai pariwisata. Tatapi jika baru diperjalan saja mereka sudah tersiksa, sakit perut, sampai muntah - muntah, bisa jadi mereka tidak tertarik lagi untuk datang. Hal ini harus diperhatikan secara serius oleh Pemerintah. Sarana dan prasarana termasuk akses tadi harus diperbaiki, dan harus dipikirkan juga bagaimana wisatawan bisa merasa nyaman dengan memperpendek jarak tempuh ke lokasi wisata. Karena kebanyakan orang tidak mau berlama - lama di perjalanan.

Konsep berikutnya terpaut dengan jaminan. Pemda juga bisa memikirkan pengadaan asuransi untuk para wisatawan. Artinya ada jaminan untuk mereka yang sakit dalam perjalanan, semua kebutuhan mulai dari pengobatan sampai pada pemulangan wisatawan ketempat asalnya Pemda yang urus. Paling tidak, dengan adanya jaminan tersebut, citra pariwisata akan menjadi lebih baik.

Kalau alasannya perlu modal yang bejibun untuk mengelola, mungkin ada benarnya jika perorangan yang memodalinya. Tapi Pemerintah Daerah kan pasti bisa. Kalau tidak punya dana sendiri, bisa ajak investor. Dengan cara itu, uang pendapatan Pemerintah Daerah bisa lebih banyak. Semakin banyak masyarakat dilibatkan, makin banyak pula rakyat yang mendapatkan manfaat dari objek wisata di daerah mereka. Kalau pihak asing bisa membuat sesuatu yang baik, mengapa tidak kita contohi. Daerah kita memang kaya. Maka jangan biarkan kita tidak menyadarinya. Kita harus pandai - pandai mengelola kekayaan itu, jangan biarkan pihak asing yang mengambil keuntungan dari kekayaan Negeri ini.

Sebagaimana orang berjualan, kita tentunya harus sangat memperhatikan kualitas produk kita. Kita juga harus pandai mengemas produk kita. Selanjutnya kita juga harus dengan indah bisa mempromosikan produk kita.

Memperhatikan kualitas produk pariwisata Daerah dalam hal ini adalah kualitas objek - objek wisata, sejak dari Buyat sampai Moyongkota, Boltim menyimpan objek wisata alam yang sangat banyak. Agar fokus, kita perlu menentukan apa yang disebut dengan Primary Destination, Secondary Destination, dan Tertiary Destination. Nah, hingga saat ini, hal inilah yang belum jelas dalam pariwisata kita. Kita belum menentukan lokasi - lokasi yang paling dianjurkan untuk dikunjungi wisatawan.

Danau Mooat memang cukup populer dikenal orang banyak. Tapi Boltim yang Is Beautiful itu tidak hanya Danau Mooat. Adalah hal bagus jika Danau Mooat dijadikan sebagai pilot project pariwisata Daerah. Namun masih banyak objek wisata lain yang bisa kita promosikan juga. Untuk wisata laut dangkal dengan pemandangan taman lautnya yang indah misalnya, Pulau Nenas (Bombuyanoi Island), Pantai Tanjung Woka dan Pantai Ariang di Motongkad, adalah tempat - tempat terbagus untuk dipromosikan.

*Penulis mendapat bahan dari buku karya Ruyandi Hutasoit, hingga tulisan ini dibuat

Jumat, 17 Maret 2017

Kadow Unik Dari Seorang Sahabat

Rabu 08 maret 2017 atau tepat dua hari sebelum pelaksanaan resepsi pernikahan saya dilangsungkan, berentetan pesan singkat masuk. Dari rekan, teman, kawan, sahabat, saudara dan para kolega tak henti - hentinya memberi ucapan selamat.

Betapa sibuknya hari itu, hingga beberapa pesan belum sempat dibuka, dibaca dan dibalas. Maklumlah, menjelang hari spesial, seorang pengantin baru dituntut siaga mempersiapkan segala sesuatu yang akan dipergunakan di hari H Nanti. Termasuk menyebar luaskan undangan yang belum sempat diantar kepada mereka para kolega yang berdomisili di berbagai wilayah di seantero Endonesya.

Meski penyebaran undangan hanya lewat postingan di Media Sosial fesbuk, sebab berpacu dengan waktu yang menurut target harus selesai di hari itu, maka banyak pesan yang luput dari ingatan belum dapat segera dibaca dan dibalas.

Waktu yang tinggal dua hari itu, saya manfaatkan untuk menyebar luaskan undangan. Memang Media sosial seperti fesbuk adalah alternatif paling dapat  diandalkan disaat - saat genting dan bisa menjadi cara paling efektif dan praktis untuk berkomunikasi jarak jauh dengan para kolega. Apalagi diwaktu yang mepet seperti itu. Walhasil, respon positif mulai bermunculan di kolom komentar.

Dari respon yang ada, saya mulai berfikir bahwa bangsal yang telah disiapkan untuk menjemput para tamu undangan itu, mungkin tidak akan muat. Terlebih jika mereka memboyong sanak familinya masing - masing. Bersamaan dengan itu, terlintas di benak bahwa, saya juga harus menyiapkan sebuah meja minimal ukurannya sepadan dengan setengah ukuran lebar dan luas pelaminan.

Yaaa, paling tidak meja dengan ukuran tersebut perlu disiapkan untuk menyambut kadow dari para undangan. Bagitu fikirku

Ngomong - ngomong soal kadow, Jumat 10 Maret 2017 atau tepat sehari sebelum resepsi dilangsungkan, saya mendapat pemberitahuan pesan dari salah seorang sahabat. Tersebab masih dalam suasana sibuk sesibuk sibuknya sibuk, maka pesan itu baru saya baca kemarin dengan sangat serius dan teliti dalam tempo yang sesingkat - singkatnya.

Isi pesan tersebut, ternyata adalah sebuah kadow. Yaaaa sebuah kadow dalam bentuk tulisan. Ahh,, bangssttt kau saudaraku Moh. Riswan Hulalata. Rupanya kian hari dirimu kian mahir dalam memainkan jari jemarimu di papan tombol keyboard. Terima kasih atas kadow uniknya saudaraku.

Eeittzz,, Saya katakan unik sebab pertama, kadow tersebut tidak seperti kadow pada umumnya yang memiliki sudut, siku, panjang, lebar, berat, warna dan rupa serta jenis. Kedua, kadow tersebut diberikan sebelum hari berlangsungnya resepsi pernikahan saya. Dan Ketiga, kadow di dalam kadow (Kadow untuk dia teruntuk saya).

Tentu saja ini yang pertama dan hal baru dalam catatan sejarah hidup dan kehidupan yang belum pernah saya temui di sekian banyak sahabat - sahabat saya. Untuk itu, Lewat catatan ini, saya ingin bersabda, Terima kasih yang tak terhingga atas kesetiakawananmu sampai saat ini,  walau jarak yang memang tak memungkinkan kita bersua meski hanya sekedar ngopi di teras rumah seperti malam - malam berlalu, kau tetap selalu menjadi sahabat yang luar biasa bagiku.

Terima kasih pula atas doa - doa yang kau telah panjatkan kepada yang empunya jagad untuk sahabatmu ini. Semoga kita semua dapat bertatap muka kembali dengan tak kurang satu apapun dan tetap berada dalam lindungan-Nya. Aminn

Oh yaa, beberapa bulan lalu saya bersama sahabat Rendi Maulana Limbanadi telah membuat rencana berkunjung ke Negeri seberang sekedar bersua denganmu. Namun tersebab kesibukan masing - masing, akhirnya rencana tersebut hingga kini belum dapat terpenuhi. Maaf sebesar - besarnya atas hal itu. Yakinlah pasti kita akan dipertemukan kembali di lain kesempatan.

Dan untuk kadow itu (Sebuah Catatan) saya perhatikan, seperti ada hawa kelelahan yang terpacak dibeberapa kalimat kawan. Saran saya, cobalah untuk bijak terhadap jari - jemarimu. Betapa perlunya jatah istirahat meski hanya sejenak.

Terakhir, saya sedikit gusar pada kalimat yang terdapat di akhir catatan yang bunyinya "Segeralah Mencari Keturunan". Sukur moanto sekali lagi atas sebuah catatan yang tak bermakna, namun mengisyaratkan harapan.  Damai di langit, damai di bumi.