Kamis, 14 Mei 2026
Sahabat, Kini Kau Digaris Depan
Minggu, 05 April 2026
Ketika Kritik Media Kehilangan Cermin
Oleh: Riswan Hulalata
Tulisan opini yang dibuat Donal Paputungan di media daring
bongkarperkara.com pada 1 April 2026 mengangkat isu penting: etika jurnalistik
dalam pemberitaan polemik tambang yang melibatkan anggota DPRD Bolaang
Mongondow Timur, Rahman Salehe. Kritiknya tajam. Ia menilai sejumlah media
online menyajikan berita sepihak, mengabaikan prinsip cover both sides, bahkan
dituding menabrak Kode Etik Jurnalistik.
Niat itu patut dihargai. Kritik terhadap praktik jurnalistik
memang perlu terus dihidupkan agar pers tetap berada di relnya. Namun,
persoalannya tidak sesederhana hitam-putih: berimbang atau tidak, etis atau
tidak. Ada konteks yang luput dibaca secara utuh.
Donal mempersoalkan pemberitaan yang hanya memuat pernyataan
Rahman Salehe tanpa menghadirkan tanggapan dari pemerintah daerah. Ia menyebut
hal itu sebagai bentuk pengabaian prinsip dasar jurnalistik. Dalam konteks
ideal, argumen ini benar. Jurnalisme memang menuntut verifikasi dan
keberimbangan.
Namun, praktik di lapangan sering kali bergerak lebih
dinamis, terutama dalam ekosistem media digital yang menuntut kecepatan. Isu
yang diangkat Rahman Salehe saat itu merupakan isu hangat di wilayah Kotabunan.
Dalam situasi seperti ini, media kerap memilih memecah satu isu besar menjadi
beberapa berita dengan sudut pandang berbeda.
Model pemberitaan seperti ini bukan hal baru. Wartawan dapat
menulis satu berita berbasis satu narasumber, lalu melengkapinya dalam berita
lanjutan dengan narasumber lain. Pola ini justru memungkinkan isu tetap hidup
di ruang publik, sekaligus memberi ruang eksplorasi yang lebih luas terhadap
fakta.
Dengan kata lain, keberimbangan tidak selalu harus hadir
dalam satu naskah berita. Ia bisa hadir dalam rangkaian berita. Ini praktik
yang lazim, selama tidak ada upaya menyembunyikan fakta atau memanipulasi
informasi.
Di titik ini, kritik Donal menjadi terasa tergesa. Ia seolah
menilai keseluruhan praktik hanya dari satu potongan pemberitaan, tanpa melihat
kontinuitas liputan. Padahal, dalam jurnalisme modern, keberimbangan bisa
bersifat akumulatif.
Lebih jauh, Donal menilai pemberitaan tersebut merugikan
kredibilitas pemerintah daerah. Pernyataan ini problematik. Kredibilitas sebuah
institusi publik tidak semata ditentukan oleh bagaimana media memberitakannya,
melainkan oleh bagaimana institusi itu bekerja dan merespons persoalan publik.
Ketika seorang anggota DPRD menyuarakan aspirasi masyarakat
terkait perusahaan tambang, itu adalah bagian dari mekanisme kontrol. Kritik
tersebut justru menjadi ujian bagi pemerintah daerah: apakah mampu merespons
secara konkret, bukan sekadar retorika dalam forum resmi.
Di sini, fokus seharusnya tidak bergeser pada siapa yang
diberitakan lebih dulu, melainkan pada substansi masalah. Apakah persoalan
tenaga kerja lokal di lingkar tambang benar-benar ditangani? Apakah ada langkah
nyata dari pemerintah daerah?
Tanpa jawaban atas pertanyaan itu, debat soal etika
jurnalistik bisa kehilangan relevansi di mata publik.
Donal juga mengangkat isu “jurnalistik pesanan” yang ia
nilai berbahaya. Ia benar dalam satu hal: praktik tersebut memang merusak
kepercayaan publik. Namun, tudingan seperti ini seharusnya disampaikan dengan
kehati-hatian ekstra, disertai bukti yang jelas.
Tanpa itu, kritik mudah berubah menjadi asumsi. Lebih jauh
lagi, ia berpotensi menjadi bumerang, terutama jika penulis sendiri tidak
sepenuhnya berada di posisi independen. Dalam dunia pers, independensi bukan
sekadar klaim, melainkan harus tampak dalam sikap dan karya.
Bagian lain yang perlu dikritisi adalah penggunaan frasa
“dinilai bodohi publik dan tabrak kode etik”. Kata “dinilai” mengandaikan
adanya pihak lain yang memberikan penilaian. Jika penilaian itu berasal dari
penulis sendiri, maka tulisan tersebut seharusnya ditempatkan secara tegas
sebagai opini, bukan seolah-olah laporan berbasis sumber eksternal.
Di sinilah garis antara berita dan opini menjadi penting.
Ketika batas itu kabur, publik justru berisiko menerima informasi yang tidak
jernih.
Pada akhirnya, polemik ini menunjukkan satu hal: jurnalisme
tidak hanya soal teknik, tetapi juga soal perspektif. Kritik terhadap media
lain sah-sah saja, bahkan diperlukan. Namun, kritik itu harus berdiri di atas
pijakan yang sama kuatnya—verifikasi, konteks, dan refleksi diri.
Pers tidak akan pernah steril dari perbedaan sudut pandang.
Tetapi justru di situlah kekuatannya. Yang perlu dijaga adalah integritas dalam
menyajikan fakta, bukan sekadar memenangkan argumen.
Alih-alih saling menuding, ruang publik akan lebih sehat
jika setiap pihak—wartawan, media, maupun pemerintah—fokus pada tanggung jawab
masing-masing. Media menjaga akurasi dan independensi. Pemerintah menunjukkan
kinerja nyata. Dan publik menilai dengan akal sehat.
Minggu, 30 Maret 2025
Idul Fitri: Makna Kemenangan di Balik Perayaan
Hari Raya Idul Fitri selalu dinantikan umat Muslim sebagai momen kebahagiaan dan perayaan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.
Di tengah suasana hangat penuh silaturahmi dan sukacita, terdapat makna mendalam yang menjadikan Idul Fitri bukan sekadar hari libur keagamaan, melainkan simbol kemenangan.
Kemenangan ini bukan hanya karena berhasil menahan lapar dan haus, tetapi juga pencapaian spiritual yang lahir dari upaya mengendalikan hawa nafsu dan memperbaiki diri.
Selama Ramadan, umat Muslim melatih kepekaan sosial, memperbanyak ibadah, dan menguatkan ikatan spiritual dengan Sang Khalik.
Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi momentum refleksi dan penyucian diri, bukan hanya perayaan semata.
Dalam tradisi Islam, kata "fitri" berarti kembali ke fitrah, yakni kesucian asal manusia.
Setelah sebulan ditempa oleh ibadah dan pengendalian diri, diharapkan seorang Muslim kembali ke hati yang bersih, penuh kasih, dan empati.
Maka, tak heran jika momen ini kerap digunakan untuk saling memaafkan, menghapus dendam, dan memperbaiki hubungan antarsesama.
Di berbagai daerah di Indonesia, suasana Idul Fitri terasa sangat khas. Mulai dari tradisi mudik, takbiran keliling, hingga sajian khas lebaran seperti ketupat dan opor ayam.
Namun, lebih dari sekadar tradisi, esensi Idul Fitri terletak pada kesederhanaan dan keikhlasan untuk berbagi serta memaafkan.
Para ulama menyebutkan bahwa keberhasilan Ramadan diukur dari perubahan perilaku pasca-Ramadan.
Apakah semangat kebaikan yang dibangun selama puasa tetap terjaga, atau justru kembali pada kebiasaan lama?
Inilah tantangan sejati bagi setiap Muslim setelah Idul Fitri mempertahankan semangat spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks kehidupan sosial, Idul Fitri juga menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas dan persaudaraan.
Umat Islam diajak untuk tidak hanya fokus pada ibadah ritual, tetapi juga pada nilai-nilai sosial seperti keadilan, kepedulian, dan kejujuran.
Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera.
Dengan demikian, Idul Fitri adalah tonggak spiritual yang mengingatkan umat akan pentingnya menjaga nilai-nilai kebaikan secara konsisten.
Kemenangan yang dirayakan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjalanan hidup yang lebih bermakna.
Mengapa Idul Fitri Disebut Hari Kemenangan? Ini Makna Sejatinya!
Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, Idul Fitri menjadi hari kemenangan yang penuh dengan kebahagiaan dan kebersamaan.
Kemeriahan perayaan ini terasa di setiap sudut, dari suara takbir yang menggema hingga tradisi saling bermaafan yang mempererat hubungan antar sesama.
Lebih dari sekadar perayaan, Hari Raya Idul Fitri memiliki makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai spiritual dan sosial dalam kehidupan umat Islam.
Momen ini bukan hanya tentang berbuka dari puasa, tetapi juga sebuah refleksi atas perjalanan spiritual yang telah dilalui selama Ramadan.
Nilai-nilai seperti keikhlasan, kepedulian, dan kesederhanaan menjadi bagian penting dari makna Idul Fitri.
Setiap daerah di dunia memiliki tradisi unik dalam merayakan Idul Fitri, mulai dari shalat Idul Fitri berjamaah, silaturahmi ke rumah sanak saudara, hingga berbagi kebahagiaan dengan sesama melalui zakat dan sedekah.
Semangat berbagi dan kasih sayang inilah yang menjadikan Idul Fitri sebagai perayaan yang penuh keberkahan.
Dalam konteks modern, Hari Raya Idul Fitri juga menjadi kesempatan untuk memperkuat solidaritas sosial.
Tidak hanya di lingkungan keluarga, tetapi juga dalam skala yang lebih luas seperti masyarakat dan komunitas.
Tradisi mudik atau pulang kampung yang masih kuat di berbagai negara menunjukkan betapa pentingnya kebersamaan dalam perayaan ini.
Lalu, apa sebenarnya makna filosofis dari Hari Raya Idul Fitri?
Bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Artikel ini akan mengulas lebih dalam tentang filosofi dan makna di balik perayaan besar ini.
Ulasan Lengkap Makna Filosofi Hari Raya Idul Fitri
1. Idul Fitri Sebagai Hari Kemenangan
Hari Raya Idul Fitri sering disebut sebagai hari kemenangan karena menandai berakhirnya perjuangan selama Ramadan.
Setelah sebulan penuh menahan lapar, haus, serta mengendalikan hawa nafsu, umat Muslim merayakan keberhasilan ini dengan penuh syukur.
Kemenangan ini bukan hanya dalam arti fisik, tetapi juga kemenangan spiritual dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
2. Makna Kembali ke Fitrah
Kata "Idul Fitri" sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti kembali ke fitrah atau kesucian.
Hal ini mencerminkan bahwa setiap Muslim yang telah menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan akan kembali pada keadaan yang lebih bersih, baik dari segi spiritual maupun moral.
Ini menjadi momentum bagi setiap individu untuk memperbaiki diri dan menjaga kesucian hati.
3. Filosofi Silaturahmi dan Saling Memaafkan
Salah satu tradisi utama dalam perayaan Idul Fitri adalah saling bermaafan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya sikap rendah hati, lapang dada, dan menjalin hubungan baik dengan sesama.
Dengan memaafkan dan meminta maaf, seseorang dapat melepaskan beban emosional dan memulai lembaran baru dengan hati yang lebih tenang dan damai.
4. Zakat Fitrah Sebagai Bentuk Kepedulian Sosial
Zakat fitrah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri.
Ibadah ini memiliki makna mendalam dalam hal kepedulian sosial, karena bertujuan untuk membantu mereka yang kurang mampu agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya.
Ini menunjukkan bahwa Islam menekankan keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan dan hubungan antar sesama manusia.
5. Tradisi dan Budaya Perayaan Idul Fitri
Meskipun memiliki makna yang sama, perayaan Idul Fitri di berbagai negara memiliki tradisi yang beragam.
Di Indonesia, misalnya, tradisi mudik menjadi bagian yang sangat dinantikan oleh banyak orang. Sementara itu, di beberapa negara Timur Tengah, perayaan lebih banyak diisi dengan acara makan bersama dan kegiatan sosial lainnya.
Keanekaragaman ini menunjukkan bahwa Idul Fitri bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga momen budaya yang mempererat persaudaraan.
Rabu, 18 Desember 2024
Bahasa dan Filosofi: Menemukan Makna di Balik Pertanyaan Dasar
Filosofi merupakan disiplin ilmu yang mendasari segala bentuk pemikiran manusia, termasuk pertanyaan mendalam mengenai “Apa?” dan “Siapa?”.
Pertanyaan ini mengacu pada pencarian hakikat, eksistensi, dan makna dalam kehidupan.
Menurut para ahli bahasa, filosofi dalam konteks ini tidak hanya menyentuh ranah keilmuan, tetapi juga bagaimana bahasa menjadi medium untuk memahami dunia dan diri kita sendiri.
Makna Pertanyaan "Apa?"
Pertanyaan “Apa?” berfokus pada esensi sesuatu. Dalam filsafat, pertanyaan ini sering digunakan untuk menggali sifat dasar dari sebuah objek, ide, atau fenomena. Ahli bahasa, seperti Ferdinand de Saussure, mengemukakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang membantu manusia mendefinisikan dan memahami konsep-konsep ini.
Sebagai contoh, ketika seseorang bertanya, "Apa itu kebahagiaan?", mereka sebenarnya mencoba memahami hakikat kebahagiaan sebagai konsep universal. Ahli bahasa menunjukkan bahwa kata “kebahagiaan” membawa makna yang berbeda di setiap budaya atau individu, tergantung pada pengalaman dan konteksnya.
Ahli filsafat Yunani, Aristoteles, pernah menggarisbawahi pentingnya memahami esensi sebagai langkah pertama dalam mempelajari sesuatu. Dalam hal ini, bahasa memainkan peran penting sebagai alat yang memungkinkan manusia menyusun definisi dan pemahaman.
Makna Pertanyaan "Siapa?"
Pertanyaan “Siapa?” mengarah pada identitas dan eksistensi individu atau kelompok. Dalam kajian linguistik, pertanyaan ini sering dikaitkan dengan penggunaan kata ganti, nama, atau identifikasi dalam komunikasi. Noam Chomsky, salah satu tokoh linguistik modern, menekankan pentingnya struktur bahasa dalam membentuk identitas manusia. Ia berpendapat bahwa bahasa tidak hanya mencerminkan siapa kita, tetapi juga membentuk cara kita memandang diri sendiri dan orang lain.
Sebagai contoh, saat seseorang bertanya, "Siapa pahlawan dalam cerita ini?", mereka tidak hanya mencari nama, tetapi juga identitas dan karakteristik yang membuat seseorang disebut sebagai pahlawan. Dalam konteks ini, bahasa membantu manusia menciptakan narasi dan memberikan makna pada identitas.
Peran Bahasa dalam Filosofi "Apa?" dan "Siapa?"
Bahasa adalah medium utama yang digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar ini. Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf bahasa, berpendapat bahwa batasan bahasa adalah batasan dunia kita. Dengan kata lain, apa yang dapat kita pahami dan ekspresikan sangat bergantung pada kemampuan bahasa kita.
Menurut Wittgenstein, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga alat untuk berpikir. Ketika seseorang bertanya “Apa?” atau “Siapa?”, mereka sebenarnya sedang membangun realitas melalui struktur bahasa. Contohnya, definisi suatu objek atau identitas seseorang dapat berubah tergantung pada kata-kata yang digunakan untuk menggambarkannya.
Relevansi dalam Kehidupan Sehari-Hari
Pertanyaan “Apa?” dan “Siapa?” memiliki implikasi yang sangat luas dalam kehidupan manusia. Dalam dunia pendidikan, pertanyaan “Apa itu pendidikan?” membantu menggali tujuan dan makna dari proses belajar. Di sisi lain, pertanyaan “Siapa guru terbaik?” mengarah pada pencarian figur inspiratif yang membentuk karakter siswa.
Di bidang sosial, pertanyaan-pertanyaan ini membantu manusia memahami budaya, tradisi, dan nilai-nilai masyarakat. Misalnya, pertanyaan “Apa arti keluarga?” dan “Siapa anggota keluarga terdekat?” membantu seseorang merenungkan posisi dan peran dalam struktur keluarga.
Filosofi tentang “Apa?” dan “Siapa?” membawa manusia pada perjalanan intelektual yang mendalam. Dengan bantuan ahli bahasa, pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya menemukan jawaban, tetapi juga menciptakan ruang untuk refleksi lebih lanjut. Bahasa, sebagai alat utama manusia, berperan besar dalam mendefinisikan, memahami, dan menyampaikan makna di balik pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Seperti yang dikatakan Wittgenstein, "Dunia manusia dibangun oleh bahasanya." Maka, memahami filosofi di balik “Apa?” dan “Siapa?” adalah langkah awal untuk memahami diri kita sendiri dan dunia di sekitar kita.
Kamis, 08 Agustus 2019
Selamat Jalan, Sahabat
Selasa, 07 Agustus 2018
Pemuda dan Abad Modern
![]() |
| Ilustrasi |
*Penulis mendapat bahan dari buku Abul 'Ala Maududi, Prof. Ahmad Muhammad Jamal, Prof. Ahmad Abdul Nasher hingga tulisan ini dibuat.
Sabtu, 23 September 2017
Sehan Diundang Ceramah di Tondano
Senin, 04 September 2017
UNTUK ROHINGYA
![]() |
| Jamal Rahman Iroth |
syair apa dapat kutulis dengan hati gemetar
untuk rohingya terbebas tragedi barbar
keluar dari perangkap kebencian berkobar
dari rakhine menyeberangi sungai naf
di bawah langit remuk dan berdarah
syair apa dapat kutulis dengan hati gemetar
pada tangis rintih bayi-bayi na'as
pada rasa takut kaum tertindas
pada tubuh ditumpas
pada napas dirampas
pada peradaban luka selamanya membekas
syair apa dapat kutulis dengan hati gemetar
sedang jiwa harus berdamai dengan pedih
saat nurani menahan, jangan memaki
bibir mesti tetap dikatup, tidak melaknati
syair apa dapat kutulis dengan hati gemetar
sungguh, estetika mana kulanggar
jika kutuk meledak di ujung pena
kertas-kertas terbakar
lenyap seluruh catatan kelam
agar kebengisan tak jadi kekal
Jamal Rahman Iroth, 03 Sept 2017
-----------------------------------------
ROHINGYA
Rohingya adalah sebuah kelompok etnis Indo-Arya dari Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan, atau Rohang dalam bahasa Rohingya) di Burma. Rohingya adalah etno-linguistik yang berhubungan dengan bahasa bangsa Indo-Arya di India dan Bangladesh (yang berlawanan dengan mayoritas rakyat Burma yang Sino-Tibet).
Muslim dilaporkan telah menetap di negara bagian Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan) sejak abad ke-16, meskipun jumlah pemukim Muslim sebelum pemerintahan Inggris tidak diketahui dengan pasti.
Setelah Perang Anglo-Burma Pertama tahun 1826, Inggris menganeksasi Arakan dan pemerintah pendudukan mendorong terjadinya migrasi pekerja dari Bengal datang kesana untuk bekerja sebagai buruh tani.
Diperkirakan terdapat 5% populasi Muslim yang mendiami Arakan pada tahun 1869, meskipun perkiraan untuk tahun sebelumnya memberikan angka yang lebih tinggi. Inggris melakukan beberapa kali sensus penduduk antara tahun 1872 dan 1911 yang hasilnya mencatat peningkatan jumlah populasi Muslim dari 58.255 ke 178.647 di Distrik Akyab.
Selama Perang Dunia II, pada tahun 1942 terjadi peristiwa pembantaian Arakan, dalam peristiwa ini pecah kekerasan komunal antara rekrutan milisi bersenjata Inggris dari Angkatan Ke-V Rohingya yang berseteru dengan orang-orang Budha Rakhine. Peristiwa berdarah ini menjadikan etnis-etnis yang mendiami daerah menjadi semakin terpolarisasi oleh konflik dan perbedaan keyakinan.
Pada tahun 1982, pemerintah Jenderal Ne Win berlaku hukum kewarganegaraan di Burma. Undang-undang tersebut menolak status kewarganegaraan etnis Rohingya. Sejak tahun 1990-an, penggunaan istilah "Orang-orang Rohingya" telah meningkat dalam penggunaan di kalangan masyarakat untuk merujuk penyebutan etnis Rohingya.
Pada 2013 sekitar 1,3 juta orang Rohingya menetap di Myanmar. Mereka mayoritas mendiami kota-kota Rakhine utara, di mana mereka membentuk 80-98% dari populasi. Media internasional dan organisasi hak asasi manusia menggambarkan Rohingya sebagai salah satu etnis minoritas yang paling teraniaya di dunia.
Menghindari kekerasan di daerahnya banyak di antara orang-orang Rohingya yang melarikan diri ke pemukiman-pemukiman kumuh dan kamp-kamp pengungsi di negara tetangga Bangladesh, dan sejumlah besar orang Rohingya juga bermukim didaerah sepanjang perbatasan dengan Thailand. Sementara itu lebih dari 100.000 Rohingya di Myanmar terus hidup di kamp-kamp untuk pengungsi internal dan mereka dilarang meninggalkan kamp-kamp pengungsian oleh otoritas setempat.
Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Rohingya
Selasa, 04 April 2017
Kejelian Mengemas Pariwisata Boltim
MENGUNJUNGI suatu tempat wisata adalah salah satu cara menikmati kekayaan alam, melihat kebesaran Tuhan dengan melihat ciptaanNya. Dalam sebuah perjalanan wisata harus terkandung hal - hal yang bersifat memperkaya pengalaman dan wawasan kita yang mengalaminya. Karena itu lahir bentuk - bentuk perjalanan dengan berbagai tujuan, mulai dari bersenang - senang semata, tujuan pendidikan, penelitian, sampai untuk tujuan keagamaan.
Di era pembangunan dan otonomi Daerah yang kian kompleks seperti sekarang ini, setiap Daerah di Endonesya termasuk Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) tempat dimana saya ditempa ini, dituntut untuk bisa membiayai dirinya sendiri. Setiap Daerah harus bisa menciptakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Daerahnya. Pariwisata adalah sumber pendapatan yang tidak bisa dianggap sepele. Di satu sisi kita harus melestarikan seni dan budaya kita, disisi lain kita harus menciptakan pendapatan untuk merawat benda - benda seni tersebut. Kalau begitu mengapa tidak kita gabungkan saja antara wisata alam dan wisata sejarah.
Kita bisa mengembangkan wisata alam yang mengedepankan keindahan alam. Bisa juga kita tambahkan wisata sejarah. Banyak tempat - tempat bersejarah baik dimasa ratusan tahun sebelum kemerdekaan dan dimasa Endonesya menjelang dan setelah merdeka terdapat di beberapa Lokasi. Kita juga bisa menampilkan wisata religi, kuliner, wisata olahraga dan sebagainya.
Dan tahukah anda bahwa Daerah kita mempunyai alam yang indah. Tidak ada satupun provinsi di Endonesya yang tidak mempunyai objek wisata dengan alam yang indah. Jawa Barat saja kita ambil contoh, ada yang khas priangan, ada pula yang cirebonan. Kalau di Sumatera terkenal dengan suku pegunungan dan suku pesisir. Di Papua, ada satu pulau saja yang konon terdiri dari ratusan bahasa Daerah. Kalau bahasanya saja berbeda, tentu corak kebudayaannya juga menyimpan kekhasan masing - masing. Kaya betul memang budaya kita.
Namun, sebagai putra Daerah sekaligus anak bangsa yang bermartabat dalam mengembangkan pariwisata di Daerah tercinta ini, saya berprinsip bahwa kekayaan alam yang kita punya itu pertama kali harus bermanfaat dulu untuk kita. Harus kita dulu yang bisa memanfaatkan dan menggunakannya. Setelah itu, baru kita perbolehkan orang lain yang menjadi tamu kita menikmatinya.
Adalah hal baik sebaik baiknya baik kita memperlakukan tamu sebagai raja. Tetapi tamu juga harus tahu bahwa tuan rumah adalah raja diatas raja. Singkatnya kita yang harus berkuasa. Saya yakin dan percaya tentunya kalian tidak mau kita yang kaya, tetapi pihak asing yang beroleh keuntungan dari kekayaan kita.
Wajar jikalau kita kaget dengan potensi pariwisata kita yang begitu hebat, tapi belum bisa mempromosikan keunggulannya terhadap dunia luar. Untuk hal ini, mari kita contohi Singapura, apa sih keunggulan Singapura? Sungguh cukup terbatas keunggulannya. Namun mereka bisa mengemas tempat - tempat tertentu menjadi tempat wisata. Pemerintahnya memberikan fasilitas dan sarana penunjang yang terkonsep dengan baik, sehingga orang mau kesana. Dan itu menjadi sumber penghasilan Singapura.
Di Endonesya, khususnya Di Boltim, kita punya Danau, ada ikan - ikannya, dan masih sering dikunjungi masyarakat. Ada juga air terjun yang terletak di beberapa titik. Pulau - pulau dengan pasir putih, pantai yang saban hari banyak pengunjung meski hanya sekedar berleha - leha bermain dengan ombak bahkan pegunungan yang bisa menjadi tempat pendakian. Tapi sayang keunggulannya belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Padahal, semua tempat wisata di Daerah kita ini menarik untuk dikunjungi, tinggal konsep dan cara mengemasnya tepat atau tidak.
Tak bisa dipungkiri bahwa urusan Pariwisata ini memang semestinya kita harus belajar ke luar. Kalau saya jadi Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata, saya akan suru orang saya untuk datang ke objek wisata di luar Daerah. Mereka ini harus mencatat semua kegiatan orang di objek wisata itu dari pagi sampai malam, selama sepekan. Kemudian pulang. Kita lihat dari jadwal kegiatan itu apa yang dikerjakan orang disana.
Barulah kita bisa memutuskan apa yang harus kita lakukan, dan apa yang harus kita bangun. Apakah harus membangun jalan, jembatan, atau rute khusus wisata? Kemudian kita biayai pembangunannya, kita kelola. Wisatawan akan berdatangan, karena objek wisatanya tertata dengan baik dan tepat. Apatah lagi didukung dengan kelengkapan sarana dan prasarananya.
Ambil contoh New Zeland di Auckland. Hanya bangunan menara pengawas saja saudara - saudara. Tapi dengan jumlah yang banyak. Namun orang yang naik diatas menara itu penuh. Mau naik kalian harus bayar. Sesampainya diatas menara, apa yang kalian lihat? Adalah Auckland dari ketinggian, berfoto - foto dari ketinggian, dan beli souvenir. Hanya itu kawan. Hanya itu sebenarnya, tetapi mereka mengemas perjalanan wisatanya dengan baik. Orang yang naik diatas menara, diberi penerangan apa saja yang mereka lihat.
Jadi, kembali saya katakan kemasan dan informasi ini harus diurus dengan baik dan serius. Tiap objek wisata dibahas secara detail dan menarik, sehingga orang menjadi tertarik untuk berkunjung dan melihat langsung. Nah yang menjadi kelemahan kita di Daerah ini, promosi pariwisata tidak berjalan dengan baik. Kita hanya membuat selebaran kecil untuk mewakili semua objek wisata kita. Coba bikin secara khusus. Misalnya kalau membahas pulau dengan pasir putih yang bagus, bahas secara lengkap. Jangan hanya gambar - gambar objek wisata itu muncul dalam gambar kecil - kecil, tidak ada keterangan pula. Kalau seperti itu, siapa yang mau datang? Kalau orang tidak mengerti apa yang ada di dalam gambar, bagaimana mau tertarik?
Di Daerah kita ada suatu Pulau pasir putih yang bagus yakni Pulau Nenas (Bombuyanoi Island), selain itu juga ada Pantai Tanjung Woka, air terjun, danau dan masih banyak lagi. Tapi promosinya belum maksimal. Jadi, siapa yang bisa tahu?
Pembangunan Daerah wisata juga harus matang konsep. Baik tema, akses bahkan sampai pada jaminan keselamatan. Berkaitan dengan tema, kalau kita ke Papua, ada hotel dengan nuansa honai. Semua seperti honai. Meski dari dalam bangunannya sudah dibuat modern, tapi itulah salah satu cara menarik untuk mencari tahu apa itu honai. Disini dilengkapi juga dengan sejarah dan cara pembangunan honai. Selain itu, Toraja. Orang ke Toraja, mereka harus menemukan rumah Toraja. Memang bangunan dan fasilitasnya juga sudah serba modern. Tapi jangan membangun hotel bintang lima disana, sebab akan tidak menarik.
Selanjutnya akses. Betapa penting pengadaan transportasi ke Daerah wisata menjadi mudah. Sekali orang yang datang bilang Boltim is Beautiful, Pasti ramai pariwisata. Tatapi jika baru diperjalan saja mereka sudah tersiksa, sakit perut, sampai muntah - muntah, bisa jadi mereka tidak tertarik lagi untuk datang. Hal ini harus diperhatikan secara serius oleh Pemerintah. Sarana dan prasarana termasuk akses tadi harus diperbaiki, dan harus dipikirkan juga bagaimana wisatawan bisa merasa nyaman dengan memperpendek jarak tempuh ke lokasi wisata. Karena kebanyakan orang tidak mau berlama - lama di perjalanan.
Konsep berikutnya terpaut dengan jaminan. Pemda juga bisa memikirkan pengadaan asuransi untuk para wisatawan. Artinya ada jaminan untuk mereka yang sakit dalam perjalanan, semua kebutuhan mulai dari pengobatan sampai pada pemulangan wisatawan ketempat asalnya Pemda yang urus. Paling tidak, dengan adanya jaminan tersebut, citra pariwisata akan menjadi lebih baik.
Kalau alasannya perlu modal yang bejibun untuk mengelola, mungkin ada benarnya jika perorangan yang memodalinya. Tapi Pemerintah Daerah kan pasti bisa. Kalau tidak punya dana sendiri, bisa ajak investor. Dengan cara itu, uang pendapatan Pemerintah Daerah bisa lebih banyak. Semakin banyak masyarakat dilibatkan, makin banyak pula rakyat yang mendapatkan manfaat dari objek wisata di daerah mereka. Kalau pihak asing bisa membuat sesuatu yang baik, mengapa tidak kita contohi. Daerah kita memang kaya. Maka jangan biarkan kita tidak menyadarinya. Kita harus pandai - pandai mengelola kekayaan itu, jangan biarkan pihak asing yang mengambil keuntungan dari kekayaan Negeri ini.
Sebagaimana orang berjualan, kita tentunya harus sangat memperhatikan kualitas produk kita. Kita juga harus pandai mengemas produk kita. Selanjutnya kita juga harus dengan indah bisa mempromosikan produk kita.
Memperhatikan kualitas produk pariwisata Daerah dalam hal ini adalah kualitas objek - objek wisata, sejak dari Buyat sampai Moyongkota, Boltim menyimpan objek wisata alam yang sangat banyak. Agar fokus, kita perlu menentukan apa yang disebut dengan Primary Destination, Secondary Destination, dan Tertiary Destination. Nah, hingga saat ini, hal inilah yang belum jelas dalam pariwisata kita. Kita belum menentukan lokasi - lokasi yang paling dianjurkan untuk dikunjungi wisatawan.
Danau Mooat memang cukup populer dikenal orang banyak. Tapi Boltim yang Is Beautiful itu tidak hanya Danau Mooat. Adalah hal bagus jika Danau Mooat dijadikan sebagai pilot project pariwisata Daerah. Namun masih banyak objek wisata lain yang bisa kita promosikan juga. Untuk wisata laut dangkal dengan pemandangan taman lautnya yang indah misalnya, Pulau Nenas (Bombuyanoi Island), Pantai Tanjung Woka dan Pantai Ariang di Motongkad, adalah tempat - tempat terbagus untuk dipromosikan.
*Penulis mendapat bahan dari buku karya Ruyandi Hutasoit, hingga tulisan ini dibuat







