Kamis, 13 Oktober 2016

Semacam Solusi Awasi Korupsi

Untuk mengawali tulisan ini, izinkan saya bertanya, pernahkan anda menghitung berapa banyak lembaga – lembaga, badan serta komisi Pemerintahan dan Swasta (Goverment dan Non Goverment) yang –sengaja- dibentuk guna mengurusi segala hal yang berkaitan degan keuangan? Walaupun semua institusi itu tugas pokok dan fungsinya hanya sebatas pencegahan dan pengawasan terhadap praktek Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) di endonesya? 
Di pusat ada lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi atau yang lebih populer dikenal orang banyak dengan sebutan KPK. Berapa banyak kasus yang diberantas? Selain KPK, ada juga Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK. Apa yang diperiksa? Situasi dan kondisinya tetap begitu begitu saja. Makin hari makin merajalela KKN. Lembaga – lembaga tersebut adalah hasil bentukan pomarentah yang berkedudukan di Ibu kota Negara.
Tentu saja pembentukan lembaga dan badan baik Pomarentah maupun swasta yang bergerak dibidang keuangan itu bukan tanpa alasan yang jelas. Tapi pasti punya tujuan dan dasar serta harapan tertentu. Kita sama sama sepakat saja bahwa mereka (Lembaga dan Badan) mengemban Tugas Mulia, yaaa ‘Tugas Mulia’ dari, oleh, dan untuk rakyat sejagat endonesya. Itu intinya.
Kesejahteraan rakyat sebagai warga Negara, pengentasan kemiskinan yang kian tak dapat teratasi, pengangguran yang menyebar luas, peningkatan taraf hidup pedagang kaki lima, bocah bocah kecil yang melangsungkan hidup di jalanan yang luput dari perhatian merupakan bagian dari instrumen ‘Tugas Mulia’ itu.
Menurut hemat saya, salah satu misi terpenting dari institusi institusi ini adalah mensejahterakan rakyat tentu saja. Selebihnya melakukan pemberantasan paten terhadap oknum pelaku yang membuat Negara ini merugi. Sekali lagi itu menurut hemat saya.
Pendek kata, seluruh institusi tersebut bertugas untuk menjalankan amanah rakyat. KPK misalnya, mereka bertugas untuk menjaga perampokan uang Negara oleh oknum-oknum koruptor, karena uang tersebut sudah jelas adalah milik rakyat. Pun dengan lembaga-lembaga lainnya yang bertugas untuk menjaga hak-hak rakyat sebagai pemegang hak konstitusi itu sendiri.
Ohh yaa, khusus dibidang ini, sekali lagi mari kita sepakati bersama bahwa KPK, BPK dan semacamnya dalam struktur pemerintahan terlebih mengenai persoalan keuangan dalam suatu Negara memiliki posisi tertinggi dibanding segala institusi lain. Beberapa turunannya terkait juga dalam Undang – undang Negara. Institusi yang dimaksud bukan hanya bentukan pomarentah, namun juga bentukan swasta yang punya legalitas sah. Artinya setiap lembaga dan badan memiliki hak paten yang sama yakni pencegahan, pengawasan, dan pemberantasan.
Ahh sudahlah, agar tidak berlebihan dalam menyikapi berbagai persoalan mengenai masalah perampokan secara halus ini, dan tentu saja, guna mengantisipasi perbedaan pandangan tentang praktek korupsi itu sendiri. Saya tidak akan menjelaskan lagi beberapa fakta kericuhan akibat tindakan menghalalkan segala cara itu.
Dan tanpa bermaksud menggurui, saya terpaksa harus memberikan sedikit referensi kepada kita semua, mengenai realita pencegahan, pengawasan, dan pemberantasan atas tindak korupsi yang terjadi ditengah – tengah kehidupan masyarakat secara individu maupun kehidupan bersama.. Paling tidak, ini adalah semacam solusi saya terhadap pengawasan praktek korupsi para elit agar bisa lebih membuka pikiran (bagi yang belum paham), atau mencoba jujur (bagi yang sudah paham tapi pura-pura bodoh).
Pertama, kita harus bisa peka melihat tingkatan penanganan kasus tindakan praktek korupsi yang terjadi dewasa ini. Tentu saja hal itu tak semudah seperti memutuskan seorang pacar. Namun tetap saja saya meminta kepada kita semua untuk melihat sepeka mungkin sambil kembali mengambil definisi tentang proses penanganan tindak korupsi itu sendiri, apa yang seyogyanya dilakukan lembaga dan badan yang berwenang agar pencegahan, pengawasan dan pemberantasan yang diusung dapat berjalan dengan baik dan sesuai harapan.
Kedua, bagi yang memiliki pemikiran waras, tentu saja dapat melihat tingkatan mana yang luput dari tindakan penanganan baik itu pencegahan, pengawasan maupun pemberantasan Korupsi oleh pihak berwenang, sehingga praktek perampokan uang negara ini sampai kini masih saja terus terjadi. Entah disengaja ataupun tidak, menurut simpulan saya bahwa, penanganannya masih kurang maksimal.
Lantas, bagaimana cara menanggulanginya? Kebijakan seperti apa yang perlu diambil terhadap oknum koruptor yang mulai belajar merugikan Negara berdasarkan level dan tingkatannya? Ini pendapat saya yang berusaha memaknai tindakan korupsi itu sendiri.
Pada dasarnya, Korupsi itu ada 3 tingkatan. Pertama, mereka yang korupsi karena sekedar bertahan hidup. Inilah para pegawai kecil yang meminta “uang rokok” agar urusan kita lancar. Menanggulangi korupsi jenis ini, pemerintah harus tingkatkan gaji pegawai rendahan dan harus sederhanakan aturan administrasi dan birokrasi yang njelimet dan bisa menjadi celah permintaan “uang rokok”.
Kedua korupsi yang terjadi karena sistemnya yang bobrok dan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan wewenang. Ini biasanya melibatkan level dirjen dan direktur atau bupati dan walikota di daerah. Menanggulanginya harus dengan memperbaiki sistem keuangan di pemerintahan kita. Banyak dana yang tidak cair karena pejabat kwatir akan kena tuduhan korupsi. Banyak juga masalah pengadaan barang atau alat – alat yang tidak memenuhi prosedur admin tapi terkena pasal korupsi.
Ketiga ada yang korupsi karena serakah. Ini biasanya terjadi di level menteri, ketua MK, kepala SKK, pejabat BI, BUMN, DPR, dan lainnya. Gaji dan fasilitas sudah sangat tinggi, tapi masih saja mau korupsi, sikat aja bleehh yang model beginian sihh . .
Nah,, KPK itu baru menangani korupsi level ketiga. Makanya masih banyak praktek korupsi terjadi karena persoalan di level pertama dan kedua belum tuntas di selesaikan. Pemerintah, khususnya instansi yang menangani persoalan ini, badan, lembaga, dan masyarakat yang terdiri dari berbagai lapisan serta para pengusung syariat islam juga harus berfikir kreatif untuk memecahkan persoalan level pertama dan kedua, baik pencegahan dan pengawasannya, jangan cuma teriak – teriak menyelamatkan Indonesia dan Daerah kita tercinta ini dengan syariah. Jangan sampai pula mereka khilaf mengusung khilafah yang masih khilafiyah.
Namun, segenting apapun alasan , laku dan edan para elit memainkan perannya dalam urusan penanganan  pemberantasan korupsi ini, saya sebagai anak bangsa yang sedikitpun tidak ada hak paten melakukan pembelaan terhadap kaum papah yang -tanpa sadar- menjadi korban keserakahan ini, hanya bisa mengajak kepada kita semua untuk dapat bersama sama satu dalam doa agar praktek Korupsi di Endonesya dapat teratasi, tentu saja penanganannya harus dimulai dari level terendah. Semoga Negeri ini bebas merdeka dari Korupsi. Aminn.

Rabu, 12 Oktober 2016

Sajak Yang Pertama Widji Tukul


Sajak tanpa kata
Inilah kata kataku yang pertama.
Biarlah negeri ini hancur sebab negeri ini sudah carut marut tak karuan.
Para seniman asyik beronani dengan seninya
Para elit politik ribut tak karuan. Mulutnya berbusa sedangkan tangannya yang hitam bergentayangan dimana saja.
Mereka bersilat lidah menyembunyikan tangannya yang bersilat lidah dengan meminjam bait bait suci tuhan.
Negeri ini sudah tak bertuan kawan.
Sebab para pengusa hanya sibuk berbicara tanpa makna. Karena itu kita mesti kepalkan tinju memukul mulut mereka yang bau memotong tangan mereka yang penuh dengan dosa.
Apalagi yang kalian tunggu. Menunggu tak akan menghasilkan apa apa. Selama badut badut itu maaih kentut kita pasti akan ditikam dari belakang.
Selama badut badut itu masih nernafas. Kita pasti akan digilas.
Ayo mari bersama sama kita lemparkan mereka ke kantong sampah.kita benamkan ke lumpur hitam. Agar mereka diam. Mati tak bersuara.

Selasa, 11 Oktober 2016

Pendidikan Yang Membebaskan


TENTU saya bukan seorang pendidik, dan tidak pula ahli dalam mendidik. Namun begitu, saya selalu sepakat bahwa, apa yang disebut dengan pendidikan bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Dan kita mesti sepakat pula bahwa pendidikan sangat diperlukan semua orang. Sebagaimana kaum jomblo membutuhkan pasangan.
Semua manusia, tak terkecuali kaum jomblo dan mereka yang sedang patah hati, tentu pernah mengalami dan menjalani apa yang disebut pendidikan. Entah ia sebagai pendidik maupun yang di didik seorang pendidik. Ironisnya, dewasa ini, orang seringkali melupakan makna dan hakikat pendidikan itu sendiri. Layaknya hal lain yang sudah menjadi rutinitas, cenderung terlupakan makna dasar dan hakikatnya. Ibarat pasangan yang selalu lupa hal-hal kecil semacam; “Sayang sudah makan belum? Ayok aku traktir makan siang..”.
Maka sudah sepatutnya bahwa setiap orang, khususnya lagi yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan, senantiasa merenungkan makna dan hakikat pendidikan, merefleksikan di tengah-tengah tindakan dan aksi, dalam dunia yang digelutinya serta melakukan tindakan dan aksi sebagai buah refleksinya. Seperti seorang pacar yang tak hanya manis dibibir tetapi pahit ditindakan.
Kita tahu bersama bahwa ada banyak definisi pendidikan, meski tak lebih banyak dari kaum jomblo yang tiap episode drama korea, selalu bertambah secara massal. Sehingga banyak pula pihak yang merasa perlu memberikan definisi.
Agar nampak seperti orang yang lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan, atau larut di antara tumpukan buku, maka saya hendak menukilkan di sini bahwa, pendidikan menurut pengertian bangsa Yunani, adalah pedagogik yang berarti ilmu menuntun anak. Sementara bangsa Romawi melihat pendidikan sebagai educare dimana mengandung makna mengeluarkan dan menuntun serta merealisasikan potensi anak yang dibawa sejak ia dilahirkan di dunia. Sedangkan bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung, yang tidak jauh berbeda maknanya dengan educare yakni : membangkitkan atau mengaktifkan kekuatan/potensi terpendam seorang anak. Selanjutnya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik). Dimana mengandung makna, memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pada umumnya, pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara didik.
Ki Hajar Dewantara mengemukakan arti dari pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Maka secara singkat, berdasarkan etimologi dan analisis diatas, pendidikan dapat dirumuskan sebagai tuntunan pertumbuhan manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi dengan alam dan lingkungan dimana ia tinggal.
Perlu diingat bahwa pendidikan merupakan proses yang terus menerus, dan tidak berhenti. Seperti seorang pacar yang terus menerus memberi cinta dan kasih sayang kepada pasangannya. Di dalam prosesnya, keluhuran martabat makhluk yang bernama manusia dipegang erat sebab manusia (mereka yang terlibat dalam pendidikan) adalah “subyek” dari pendidikan itu sendiri. Jika memperhatikan manusia itu sebagai subyek, dan pendidikan meletakkan manusia pada hal yang terpenting, maka perlu diperhatikan juga masalah otonomi pribadi.
Artinya adalah, manusia sebagai subyek pendidikan harus bebas untuk “ada” sebagai dirinya yakni manusia yang berpribadi, yang bertanggung jawab.
Lantas, apakah hasil pendidikan itu? Tentu saja menghasilkan perubahan pada subyek – subyek pendidikan itu sendiri. Bahasa sederhananya, perubahan dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Tapi, jelas tidak hanya sedemikian sempit perubahan – perubahan yang akan terjadi. Bukankah perubahan – perubahan itu menyangkut aspek perkembangan jasmani dan rohani juga?
Melalui pendidikan, manusia menyadari hakikat dan martabatnya di dalam relasinya yang tak dapat terpisahkan dengan alam, lingkungan, dan sesamanya. Itu berarti, pendidikan dapat mengarahkan manusia menjadi pribadi yang sadar diri dan sadar lingkungan. Berangkat dari kesadaran itu, sehingga manusia mampu memperbaharui diri dan lingkungannya tanpa kehilangan kepribadian dan tidak tercerabut dari akar tradisinya.
Namun terkadang bagi mereka yang berkompeten di bidang pendidikan akan menyadari bahwa sampai saat ini dunia pendidikan kita masih mengalami “sakit”. Ini disebabkan karena pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia, berbeda dengan kenyataannya. Seringkali justru pendidikan lah yang tidak memanusiakan manusia. Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh sistem pendidikan yang ada dan akan ada.
Tanpa bermaksud menggurui, saya harus memberikan sedikit referensi mengenai realita masalah pendidikan yang dianggap sebagai hal penting yang sedang terjadi disekitar kita. Paling tidak, ini dapat manjadi bahan pembuka pikiran (bagi yang belum paham), atau mencoba untuk jujur (bagi yang sudah paham tapi pura – pura bodoh).
Pertama, bahwa pendidikan khususnya di Indonesia, menghasilkan “manusia robot”. Mengapa demikian? Alasannya sederhana. Hal yang sering disinyalir ialah, pendidikan acapkali dipraktekkan sebagai sederetan instruksi dari guru kepada murid. Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar – gemborkan hingga sampai dijadikan slogan “pendidikan yang menciptakan manusia siap pakai”. Perlu dipahami, “siap pakai” disini berarti menghasilkan tenaga – tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dan teknologi.
Memperhatikan secara skeptis hal tersebut, akan nampak bahwa manusia dalam hal ini dipandang setara dengan bahan atau komponen pendukung industri. Dan itu berarti, lembaga pendidikan diharapkan mampu menjadi lembaga produksi sebagai penghasil bahan atau komponen dengan kualitas tertentu yang dituntut pasar. Lucunya kenyataan ini justru disambut dengan antusias oleh banyak orang.
Kedua, adalah sistem pendidikan yang top-down (dari atas ke bawah), meminjam istilah yang digunakan Paulo Freire (seorang tokoh pendidik dari Amerika Latin), adalah pendidikan gaya bank. Sistem pendidikan ini sungguh sangat tidak membebaskan. Sebab para peserta didik (murid) dianggap manusia – manusia yang tidak tahu apa – apa. Guru sebagai pemberi, mengarahkan kepada murid untuk menghafal secara mekanis tentang isi pelajaran yang diceritakan. Otak murid dipandang sebagai safe deposit box, dimana pengetahuan dari guru ditransfer kedalam otak murid dan bila sewaktu – waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil saja.
Jadi hubungannya adalah guru sebagai subyek dan murid sebagai obyek. Freire mengatakan bahwa dalam pendidikan gaya bank, pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak mempunyai pengetahuan apa – apa.
Ketiga, dari model pendidikan yang demikian, maka manusia yang dihasilkan hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukan bersikap kritis terhadap zamannya. Lihat saja bagaimana kaum muda zaman ini, bukankah begitu gandrung dengan hal – hal yang berbau Barat? Bukan bermaksud anti-Barat kalau hal ini saya kemukakan. Melainkan justru mengajak kita semua untuk melihat kenyataan ini sebagai sebuah tantangan bagi dunia pendidikan kita. Mampukah kita menjadikan lembaga pendidikan sebagai sarana interaksi kultural untuk membentuk manusia yang sadar akan tradisi dan kebudayaan serta keberadaan masyarakatnya, sekaligus mampu menerima dan menghargai keberadaan tradisi, budaya, dan situasi masyarakat lain? Dalam hal ini makna pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara menjadi sangat relevan untuk direnungkan.
Kembali ke hakikatnya, dalam Pendidikan yang membebaskan, hubungan antara guru dan murid bersifat membebaskan, yaitu masing – masing pihak mencoba untuk membangkitkan kemampuan yang dimilki oleh pihak lain dan menjadikannya dapat tersedia satu bagi yang lain. Misalnya kalau seorang murid menghendaki seorang guru, maka dia harus memberikan kebebasan kepada orang itu untuk menjadi gurunya dengan membagikan pengalaman sebagai sumber pemahaman dan pengertian. Dalam pengertian ini, guru menjadi sahabat bagi murid
Pendidikan/Pengajaran yang membebaskan terjadi dalam dua arah. Guru belajar dari murid dan murid juga belajar dari guru. Singkatnya, guru dan murid adalah teman seperjalanan mencari yang benar, bernilai dan sahih serta saling memberikan kesempatan untuk berperan satu terhadap yang lain. Seorang guru tidak mesti takut jika murid lebih mengerti tentang pelajaran yang diberikan. Dan tidak perlu merasa kehilangan kehormatan, karena justru yang demikian guru telah membebaskan murid dari perasaan takut dan memberikan kepada murid kebebasan untuk berkembang.
Pengajaran bukannya untuk mengasingkan dengan mengarahkan kesadaran murid keluar dari dirinya sendiri dan menjauh dari hubungannya yang langsung dengan kenyataan saat ini dalam diri dan lingkungannya. Akan tetapi pengajaran harus mengaktualisasikan. Begitulah cara kerja pendidikan yang membebaskan.
Sampai di ujung tulisan ini, satu hal yang nampak mengemuka adalah, betapa ideal dan agungnya pendidikan itu (selagi kita tidak membuatnya menyimpang). Namun sebagaimana hal lainnya yang ideal dan agung, acapkali dapat mengerutkan dahi kita dan tanpa sadar kita menggerakkan otot dada untuk menghela napas panjang.
Mengapa?
Pertama, kita merasa bahwa hal tersebut terlalu ideal, tidak realistis, terlalu mengada – ada, sehingga sangat sulit dan berat untuk dilaksanakan. Kemungkinan kedua, kita mengajui kebenaran dari apa yang baru saja kita baca dan refleksikan, lalu hal itu menggugah kita sehingga memberikan semangat untuk mulai bertindak, meski sebenarnya sadar itu sulit.
Nah, kita termasuk dalam kemungkinan yang mana?
*Sebagian isi tulisan ini dikutip dari buku Paulo Fleire dan The Adventure of Jonathan Gullible, pernah dan telah dimuat di Arusutara.com dan kompasiana.com

Lebih Baik Jadi Wartawan Online


SALAH SATU ide yang pernah merayap di kepala saya, supaya bisa selow bertahan hidup, adalah bisnis sampingan.  Tentu kesadaran soal bisnis sampingan ini, tak serta merta membuat saya kepikiran kalau ada juga bisnis pinggiran, bisnis tengahan, atau bisnis atasan.
Bisnis sampingan, bagi saya adalah, kita sedang menjalankan satu usaha atau profesi berlandaskan profit, dan sekaligus itu pula kita menjalankan satu usaha lainnya yang tujuan utamanya adalah profit alias keuntungan. Kalau di pepatahkan, maka inilah mungkin yang disebut, sambil menyelam minum air.
Yah, apapun istilah dan pepatah yang tepat untuk itu, bisnis sampingan adalah solusi bagi siapa saja yang menginginkan keuntungan berlimpah. Oportinistis dan ambisius. Kira-kira begitu.
Adakah syaratnya?  Tentu ada. Jaman gila begini tak ada syarat? Hubungan asmara aja selalu minta syarat kok (jangan merokok misalnya), masak berbisnis sampingan gak ada syarat. Tapi sudahlah. Saya tak akan membahas itu. Sebab apa? Sebab pengelola media ini pernah berkoar-koar di kantin Pemkab Boltim; tak ada yang saya syaratkan untuk sesuatu yang aku sukai. Makanya saya ragu membahas soal persyaratan, karena siapa mengira, gara-gara membahas itu, tulisan usai sahur ini, tak lulus untuk dimuat.
Tapi biarlah. Saya nekat. Maka dari itu saya berkata;  asalkan bisnis yang dijalani tidak mengganggu pekerjaan Anda, atau sebaliknya, pekerjaan yang mengganggu bisnis Anda, maka itulah syaratnya. *tidak run*
Lanjut!
Sejujurnya, yang namanya bisnis, bukanlah barang baru bagi saya. Jadi ingat bagaimana saya mengawali pekerjaan berbau bisnis. Itu adalah masa ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu.  Saya ditugaskan menjaga  Koperasi Sekolah. Semacam mini warung begitu. Teman saya Suaib Mashanaf pasti tidak akan pernah lupa peristiwa TGR kala itu (TGR : Tuntutan Ganti Rugi). *Apes!
Selain pernah TGR, cibiran dan olok-olok, pernah datang dari teman-teman kelas; “Cieee… Dhyrta macam gadis penjaga toko niyee”. Ada juga yang begini; “Eh bro, jagain koperasi ya? Kenapa bukan siskamling aja sekalian,”. Atau yang dikit pedih memancing emosi diri;  “Cewek cewek, WC sekolah dimana ya?”.
Itu hanya 3 olok-olok dari ribuan olok-olok yang tidak mungkin saya buka dan urai satu-satu di sini.
Meski rintangan dan badai itu datang silih-berganti, saya memilih enggan peduli. Berbisnis memang mengasyikan. Saya jadi tahu seperti apa rasanya pegang duit banyak (cuma pegang) dan bagaimana cara ‘memaksa’ atau merayu konsumen.
Sialnya, pengalaman itu tak membuat saya jadi piuner dalam berbisnis. Entah sudah berapa jenis usaha—dari pengalaman itu— yang pernah saya geluti; buka kursus komputer gratis bagi siswa-siswi SD se-Boltim, buka perpustakaan gratis di rumah, yang jelas saja dari usaha itu, saya gagal menjadi pebisnis. Kenapa? Ya,mana ada keuntungan dari usaha gratis? Padahal, potensi pasarnya cukup besar dan menjanjikan. Tapi setelah diubah jadi berbayar, eh langsung sepi.
Saya akhirnya terjun ke peruntungan bisnis parfum, yakni minyak wangi Arab. Saya dapat dari seorang kawan. Berharap dapat beli emas dari bisnis itu, eh yang ada malah hamir mati lemas. Akhirnya, saya memilih mundur dan tak peduli lagi soal dunia bisnis, setelah memutuskan untuk berkarir sebagai wartawan media online di Sulut.
Suatu ketika saya sempat membaca rubrik teknologi di salah satu surat kabar harian ternama berskala nasional di Indonesia. Isinya adalah tawaran bagaimana cara memperoleh dollar melalui internet (soal bisnis nih). Semacam ajakan yang ditawarkan kepada para pemilik situs atau blog.
Saya tiba-tiba merasa seperti sedang menemukan belahan jiwa yang hilang (dan gagal) selama ini, setelah membaca rubrik itu. Bisnis yang ditawarkan adalah bisnis onlen (online maksudnya/seperti pionner tadi dibaca; piuner).
Pada dasarnya, saya suka internet. Internet itu bagi saya seperti kotak pandora. ketika kita membuka kotak itu, tersembur jutaan informasi. Jadi, pas rasanya kalau saya menjalankan bisnis onlen.
Saya mulai mencari tahu, bagaimana dan seperti apa bisnis onlen ini. Hasilnya? sungguh mengecewakan. Coba simak rayuan berikut ini:
Rahasia hebat, bagaimana cara mendapat uang secara online hanya dalam 30 menit
Perhatian : satu dari rumus bikin duit yang paling canggih, mengesankan, rahasia dan terkenal! Pertama kali di Indonesia
Sungguh kepala saya seperti sedang pelintir mahluk halus dalam tayangan kampret [Masih] Dunia Lain. Mana ada orang mau membongkar rahasia yang rahasia itu mampu membuat si mulut ember itu bisa jadi triliuner? Adakah orang gila di jaman paceklik ini penuh kemuliaan hati membongkar rahasia begini; “Ayo, pergilah ke bawah pohon itu, ambil emas 100 kilo di situ,”. Lha, trus kenapa susah-susah bikin situs onlen lalu jualan di situ?
Simaklah pula berikut ini;
Apakah Anda mengalami masalah dengan pekerjaan kantor? 
Apakah Anda merasa terancam di PHK?
Apakah Anda selama ini sudah begitu kerja keras tapi penghasilan tidak bertsambah?
Anda ingin kaya tanpa kerja keras?
Anda ingin uang jutaan rupiha tetap mengalir tiap hari, tapi anda hanya ongkang-ongkang kaki di rumah?
Kalau jawaban di atas semua itu Iya, maka sudah waktunya Anda mengikuti program kami!
Cukup dengan mengeluarkan uang 299.000 rupiah, dijamin hidup Anda akan terbebas dari masalah finansial!
Nah, hebat bukan? Dan betapa banyak situs – situs onlen yang seliweran seperti serigala yang tak pernah kenyang cari mangsa.
Maka mulai hari ini, tak ada lagi niat tumbuh dari dalam hati untuk menjadi pebisnis. Daripada menerima ajakan menggeluti bisnis onlen, lebih baik saya bertahan menjadi wartawan media onlen. Ini rahasia dan petuah saya pagi ini. Punya Anda mana? Ayo, kirim ke sini.